Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, Si Ida sedang cuti, ya?” tanya seorang rekan kerja.
“Iya. Tepatnya, diistirahatkan dua minggu oleh perusahaan,” jawab saya. “Kenapa?”
“Anak itu aneh. Nggak nyambung kalau diajak ngomong. Sering bingung oleh perasaanya sendiri.”
“Haha, ya karena itu ia diistirahatkan agar kondisinya pulih. Sudah tes, dan kena gangguan alexithymia.”
“Alexithymia? Apa itu?”
“Dalam psikologi, alexithymia adalah kondisi saat seseorang sulit mengidentifikasi, memahami, dan mengungkapkan emosi. Orang dengan alexithymia cenderung sulit mengekspresikan perasaan dengan kata-kata, memahami perasaan sendiri, dan mengenali perasaan orang lain. Sulit mengungkapkan secara verbal, sehingga dapat menimbulkan tantangan dalam kesadaran emosional dan komunikasi,” saya menjelaskan.
“Oh, gitu ya?”
“Jika dibiarkan, alexithymia dapat terkait dengan masalah psikologis lainnya, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan makan. Sulit berkomunikasi dan memahami emosi dapat mengganggu hubungan interpersonal,” lanjut saya.
“Wufff… bahaya.”
“Tapi, jangan cemas. Tuhan selalu memberi kita paket lengkap. Kalau ada permasalahan, pasti ada jalan. Setiap sakit, pasti ada obatnya.”
“Itu kan sakit psikis. Obatnya apa?”
“Belajar berkomunikasi dengan baik agar hati dan mentalnya lebih lega.”
“Kan, dia susah berkomunikasi?”
“Pakai pesan teks, terutama pakai emoji, agar dia lebih ekspresif.”
“Koq bisa?”
“Ada studi yang menemukan bahwa individu dengan alexithymia tinggi menunjukkan variasi lebih besar dan lebih sedikit dalam penggunaan emoji untuk mengekspresikan emosi. Ini tergantung pada aspek spesifik alexithymia dan konteks emosionalnya.”
Di era digital, sebagian cukup besar komunikasi interpersonal kita terjadi melalui ponsel pintar dan pesan teks. Kata-kata yang diketik memberikan sarana ekspresi emosional secara verbal. Emoji berfungsi sebagai isyarat non-verbal untuk menyampaikan emosi dalam percakapan digital. Nah, ekspresifitas pesan teks ini berbeda di antara individu dengan tingkat alexithymia yang berbeda pula.
Alexithymia ini terjadi pada 19% populasi. Jika mereka sulit mengkomunikasikan emosi, bakal sangat banyak kesalahpahaman antarpribadi yang bisa berdampak negatif pada kesejahteraan dan keterhubungan sosial. Maka, salah satu cara untuk mengungkapkan emosi dengan jelas adalah aplikasi pesan teks dengan emoji yang sudah sangat beragam. Sulit pakai bahasa verbal, ya diusahakan dengan bahasa digital.


