Sekadar Mengkhawatirkan Penuaan Ternyata Bisa Mempercepat Penuaan

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada seorang wanita lumayan cantik datang ke tempat saya karena pingin curhat. Rupanya ia masih kurang pede dengan dirinya.

“Kadang saya takut banget, Mbak. Saat sudah tua nanti, kulit sudah keriput, rambut memutih, siapa yang masih akan melihat saya menarik?

“Oh, menua itu kan proses alami dan wajar. Mengapa khawatir? Tak usah terlalu ditakutkan.”

“Entahlah. Rasanya dunia ini memuja yang muda. Saya hanya khawatir nanti jadi ‘tak terlihat’.”

Enjoy saja. Jangan terlalu mengkhawatirkan proses ageing. Terlalu mencemaskan penuaan bisa membuat njenengan lebih tua betulan, lho. Ini bukan cuma soal di depan cermin, tapi juga soal sel-sel kita.”

“Serius? Bisa makin cepat tua karena takut jadi tua?”

“Iya. Jadi, santai saja. Penuaan itu proses alami, bukan musuh.”

__________

Pembaca yang budiman, saya ajak Anda untuk menyimak penelitian terbaru yang boleh dikata cukup mengejutkan. Rasa cemas tentang penuaan ternyata bisa berpengaruh pada percepatan proses penuaan dalam tubuh; bukan hanya dalam pikiran.

Tim peneliti yang dipimpin Mariana Rodrigues menganalisis data 726 perempuan dewasa yang mengikuti penelitian Midlife in the United States (MIDUS). Mereka mengukur seberapa besar kecemasan yang dirasakan para relawan perempuan itu terhadap berbagai aspek penuaan; antara lain tentang kehilangan daya tarik fisik, penurunan kesehatan, hingga perubahan dalam kemampuan reproduksi. Selanjutnya, peneliti membandingkan kecemasan ini dengan ukuran penuaan biologis yang diperoleh dari sampel darah relawan peserta penelitian.

Umumnya kita menggunakan usia kronologis yang hanya menghitung jumlah tahun kita hidup. Nah, para ahli biologi menggunakan epigenetic clock untuk mengukur umur biologis. Jam epigenetik ini menghitung seberapa cepat tubuh kita mengalami perubahan pada tingkat molekuler. Dua penanda epigenetik yang digunakan dalam penelitian ini adalah: GrimAge2 yang memperkirakan kerusakan biologis akumulatif dan risiko kematian, dan DunedinPACE yang mengukur kecepatan penuaan saat ini.

Hasilnya?

Relawan penelitian yang melaporkan kecemasan tinggi tentang penurunan kesehatan terkait penuaan justru cenderung memiliki skor DunedinPACE lebih tinggi. Artinya, tubuh mereka menunjukkan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih cepat dibandingkan dengan perempuan yang kurang cemas.

Tidak cukup dengan jam epigenetik, para peneliti juga mempertimbangkan perilaku sehat para relawan peserta penelitian. Itu meliputi kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, atau indeks massa tubuh (BMI).

Ketika faktor ini diperhitungkan, hubungan antara kecemasan menua dan percepatan penuaan menjadi kurang kuat. Ini menunjukkan bahwa cara kita hidup juga dapat memengaruhi seberapa besar kecemasan tentang penuaan meresap ke dalam tubuh kita.

Lalu, apa arti hasil penelitian ini bagi kita?

Penelitian ini menjadi pengingat pada kita bahwa pengalaman subjektif tentang penuaan ternyata bukan hanya perasaan psikologis tetapi mungkin juga terkait dengan proses biologis nyata. Dengan kata lain, cara kita memikirkan tentang penuaan diri bisa berdampak —setidaknya dalam jangka pendek— pada tubuh kita sendiri.

Penelitian ini mengingatkan kita bahwa menjaga kesehatan mental dan fisik itu berjalan berdampingan saat kita menapaki perjalanan hidup yang panjang. Maka, banyak-banyaklah bersyukur pada apa pun yang Tuhan titipkan pada kita. Termasuk banyak bersyukur saat diberi waktu menikmati proses menua.

Banyak lho yang tidak sempat berusia tua.

Facebook Comments

POST A COMMENT.