mepnews.id – Dulu, saat VOC bentrok dengan Banten berebut Batavia, diam-diam berdiri masjid di tempat yang kini disebut Marunda. Masjid bernama Al-Alam itu berdiri pada 1663 sehingga menjadi masjid tertua di Jakarta. Lebih tua daripada Masjid Al-Mansur di Jembatan Lima yang dibangun 1717 dan Masjid Luar Batang yang dibangun sekitar abad ke-18.

Bagian utama perwajahan masjid
Karena lokasinya hanya berjarak sekitar 500 meter dari museum Rumah Si Pitung, masjid ini dikenal sebagai Masjid Al-Alam Si Pitung. Padahal, hubungan antara masjid tua dan legenda Betawi belum bisa didapatkan.
Berada di pesisir pantai Jakarta Utara, masjid ini menampakkan kekhasannya. Lokasinya dekat laut membuat masjid ini tak hanya tempat ibadah tetapi juga penanda sejarah kehidupan warga pesisir ratusan tahun lalu. Kesejarahannya juga menambah detail penyebaran Islam di Jakarta.
Sebagaimana masjid-masjid kuno, bangunan utama Masjid Al-Alam sangat sederhana. Luasnya sekitar 12 x 12 meter dengan tambahan bangunan baru untuk tempat salat perempuan berukuran 4 x 8 meter. Bentuk atapnya limasan dengan genteng merah, tiang-tiangnya putih, elemen kayu mendominasi tampilan masjid. Ini mencerminkan gaya bangunan tradisional Betawi lama yang masih terjaga. Arsitekturnya memiliki perpaduan budaya Jawa, Tionghoa, dan Belanda.
Suasana di sekitar masjid tenang dan teduh jadi semacam oase bagi warna hiruk-pikuk kota. Halaman berlapis paving block terlihat bersih dan lapang. Di sisi timur terdapat pendopo terbuka yang biasa digunakan jamaah dan pengunjung untuk beristirahat. Deretan tanaman hijau dalam pot dan pepohonan rindang di sekeliling pendopo membuat suasana terasa sejuk.

Sumur kuno di Masjid al-alam Margonda
Tak jauh dari pendopo, terdapat sumur tua yang dipercaya memiliki rasa asin, manis, dan tawar. Sumur ini selalu menarik perhatian pengunjung atau peziarah yang berkunjung ke area makam di sekitar masjid. Makam tersebut didatangi peziarah yang ingin berdoa atau mengenang tokoh-tokoh masa lalu yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah Marunda. Kehadiran makam tersebut menambah nilai historis dan spiritual Masjid Al-Alam Marunda.
“Ada dua makam keramat yang biasa didatengin peziarah. Makam Kiai Haji Jamiin bin Abdullah yang dikenal sebagai wali Allah penjaga masjid di abad ke-18. Satunya, makam Habib Abdul Halim bin Yahya,” ujar Edi (48) penduduk asli yang tingga di sekitar masjid Al-Alam Marunda.
Keunikan lain Masjid Al-Alam Marunda terletak pada tradisi penanda waktu salat. Hingga kini, masjid masih menggunakan beduk. “Dari dulu sampai sekarang, di sini pakai beduk sebagai tanda waktu solat. Kalau beduk sudah ditabuh, rasanya beda. Lebih kerasa suasana kampung jaman dulu,” ujar Edi.
Pada 1993, Masjid Al-Alam Marunda ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pemprov DKI Jakarta. Dengan suasananya yang tenang, tradisi yang tetap terjaga, serta sejarah yang lekat dengan kehidupan warga pesisir, Masjid Al-Alam Marunda menjadi ruang hidup dan saksi perjalanan waktu.
Di tengah modernisasi Jakarta, masih ada warisan budaya dan spiritual yang terus dijaga serta diwariskan dari generasi ke generasi. (Intan)


