Dibutuhkan; Literasi Kebencanaan

Oleh: Teguh W. Utomo

mepnews.idWhat about children dying? Can’t you hear them cry? Where did we go wrong? Someone tell me why….

Saat terjadi kerusakan lingkungan dan penderitaan manusia, saya jadi teringat lagu Earth Song. Saya teringat seruan emosional Michael Jackson mempertanyakan apa yang terjadi pada bumi. Frase ‘What about…’ diulang berkali-kali sebagai bentuk kritik sekaligus rasa kehilangan. Ini gambaran bumi sebagai korban dan manusia sebagai pihak yang seharusnya bertanggung jawab.

Di sisi utara pulau Sumatera, tragedi tanah longsor dan banjir bandang yang dipicu siklon tropis Senyar dan diperparah deforestasi liar, sudah menewaskan lebih dari 600 orang. Ini bukan hanya deretan angka duka, tapi alarm keras. Alarm yang mengingatkan kita pada kenyataan pahit: kita belum siap hidup berdampingan dengan bencana, padahal Indonesia berdiri di atas kawasan paling rawan bencana di dunia.

Dalam setiap peristiwa, masyarakat selalu tampak kaget, panik, dan gagap menghadapi situasi darurat. Yang hilang bukan hanya nyawa, tetapi juga masa depan keluarga, harapan ekonomi, serta benteng psikologis masyarakat yang terus menerus diguncang rasa takut. Di sinilah literasi kebencanaan menjadi kebutuhan yang tak lagi bisa ditunda.

Kita sering menyalahkan hujan ekstrem, perubahan iklim, pembukaan lahan, dan lemahnya infrastruktur. Betul, semua itu memang faktor penting. Tapi, ada satu hal yang jarang dibahas secara serius: minimnya pengetahuan masyarakat tentang bagaimana bertindak sebelum, saat, dan sesudah bencana.

Banyak warga tinggal di daerah rawan tanpa memahami risiko. Ketika tanda-tanda longsor muncul—retakan tanah, suara gemuruh kecil, pohon mulai miring—banyak yang tidak mengenalinya. Ketika banjir datang, mereka baru sadar bahwa tidak ada ransel siaga, tidak ada rencana evakuasi keluarga, bahkan tidak tahu ke mana harus lari.

Literasi kebencanaan bukan sekadar teori di buku panduan, tapi keterampilan hidup, kemampuan membaca tanda alam, memahami peta risiko, mengambil keputusan cepat, sambil tetap tenang dalam situasi krisis dan kacau. Jika masyarakat sudah betul-betul melek bencana, inshaAllah angka korban bisa ditekan.

Jepang, yang juga masuk daerah ring of fire, sudah membuktikan bahwa pendidikan kebencanaan yang konsisten mampu menyelamatkan ribuan nyawa. Penduduk Jepang menghadapi risiko gempa dan tsunami jauh lebih besar, namun risiko korban mengecil drastis belakangan ini. Orang Indonesia semestinya belajar dari pendekatan Jepang: membentuk budaya sadar risiko yang melekat di sekolah, di rumah, dan di lingkungan.

Sayangnya, literasi kebencanaan di Indonesia masih level sporadis. Pelatihan kebencanaan sering diadakan tapi hanya setelah bencana terjadi, sekadar formalitas atau ritual tahunan. Padahal, edukasi bencana harus dilakukan terus-menerus. Edukasi lewat pembelajaran matang, simulasi rutin di sekolah, informasi di ruang publik, pelatihan pertolongan pertama di desa, hingga konten edukatif yang mudah diakses di media sosial.

Harus terbangun komunitas siaga yang kuat dan terlatih. Tanpa kesiapan, setiap bencana akan terus mengulang pola yang sama: masyarakat tak siap, pemerintah kewalahan, korban berjatuhan.

Melihat skala korban di Sumatera, silakan saja beberapa pihak mempertanyakan “Mengapa ini terjadi? Siapa harus bertanggung jawab” Tapi, saya lebih ingin menyoroti; “Mengapa kita tidak pernah belajar?”

Sudah terlalu sering kita menganggap bencana sebagai takdir, seolah-olah tidak ada ruang untuk mengurangi risikonya. Padahal, di balik setiap korban yang jatuh, selalu ada celah persiapan yang hilang —baik dari sisi pendidikan, perencanaan wilayah, maupun kepedulian warga terhadap keselamatan diri.

Hari ini, sudah ratusan nyawa hilang di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Tragedi ini harus menjadi titik balik. Literasi kebencanaan bukan lagi opsi, bukan lagi slogan, melainkan kebutuhan hidup bagi masyarakat Indonesia. Kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan alam, tetapi kita bisa mengendalikan kesiapan diri kita. Kesiapan itu hanya bisa dibangun dari pengetahuan, latihan, dan budaya sadar risiko yang ditanam sejak dini.

 

Penulis adalah

  • aktivis literasi
  • pengurus Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Jatim
  • jurnalis

Facebook Comments

POST A COMMENT.