mepnews.id – Sejumlah penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan, hujan di Jakarta dan beberapa kota lainnya mengandung plastik mikro. Kandungan tak alami pada air hujan ini berpotensi menganggu kesehatan dalam jangka panjang.

Prof Arseto pakar lingkungan dari ITS.
Prof Arseto Yekti Bagastyo ST MT MPhil PhD, pakar lingkungan dari Departemen Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menyoroti lemahnya pengelolaan sampah, terutama sampah plastik, sebagai salah satu penyebab hujan dengan kandungan plastik mikro.
Kondisi tersebut menunjukkan eskalasi keberadaan plastik mikro. Kemudian, ada atmospheric deposition yakni proses jatuhnya partikel maupun zat-zat di atmosfer ke permukaan bumi. “Mikroplastik pada air hujan ini menjadi indikasi pergerakan banyaknya polutan plastik mikro di udara,” ujar Prof Arseto lewat situs resmi its.ac.id.
Proses ini diawali dari degradasi plastik makro yang bisa jumpai sehari-hari menjadi plastik mikro yang berukuran kurang dari 5 milimeter. Terurainya partikel plastik ini ke lingkungan dapat disebabkan paparan langsung dari angin, kondisi panas, sinar ultraviolet (UV) matahari, perubahan cuaca, serta aktivitas manusia. Partikel mikro ini bisa tersebar ke mana saja, termasuk ke atmosfir. Saat hujan, plastik mikro dari atmosfir ini turut jatu ke permukaan Bumi. Turunnya hujan mengandung plastik mikro ini dapat melahirkan berbagai masalah baru yang membentuk sebuah rantai. Dari udara terbawa hujan, plastik mikro dapat kembali terbawa air menuju sungai dan laut serta terserap oleh tanah. Organisme mikro dan berbagai biota menyerapnya. Plastik mikro dari jasad renik ini kemudian masuk ke tumbuhan atau hewan yang nantinya jadi makanan manusia. Secara tidak langsung, platik mikro kelak terakumulasi ke dalam tubuh manusia yang dapat menyebabkan masalah kesehatan.
Prof Arseto menyoroti plastik sebagai objek utama yang melekat erat dalam gaya hidup masyarakat saat ini. Jika penggunaan plastik tidak dibarengi dengan pengelolaan sampah yang baik, bisa tercipta permasalahan baru yang kian sulit teratasi.
“Hal ini berkaitan dengan pembatasan timbulan dan penanganan sampah yang masih belum efektif dan optimal,” kata lulusan University of Queensland, Australia, ini.
Menurutnya, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Indonesia banyak yang open dumping (penimbunan secara terbuka). TPA yang benar-benar menerapkan sanitary landfill (penimbunan secara terkontrol) tidak mencapai 50 persen. Ini peringatan bagi para pemerintah daerah.
Guru besar di bidang pengolahan limbah ini tak menyangkal faktor mahalnya biaya operasional pengelolaan sampah serta kurangnya kesadaran warga dalam pemilahan sampah. Maka, ia mendorong sinergi dan kontribusi antarpihak untuk tidak saling menggantungkan. Harus bergerak bersama. “Pengelolaan sampah memerlukan integrasi dari hulu ke hilir yang melibatkan peran semua pihak,” ujarnya.
Arseto menambahkan, kondisi yang muncul saat ini merupakan bentuk alarm atau wake up call dari alam yang diharapkan mampu membuka mata semua pihak. Usaha untuk menangani isu ini dapat membantu mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), salah satunya poin ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta poin ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. (HUMAS ITS)



POST A COMMENT.