mepnews.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menerjunkan tim Brigadir Relawan Mahasiswa Tanggap Bencana Umsida (Bramasgana) untuk membantu keluarga korban runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny di Buduran. Tim dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa itu bertugas di area sejak 30 September 2025 tepat sehari setelah runtuhnya bangunan ketika para santri salat ashar berjamaah.
“Bramasgana ini tim yang baru dikukuhkan saat Forum Ta’aruf Mahasiswa baru (Fortama) kemarin. Sekarang kami langsung bertugas di Ponpes Al Khoziny,” kata Hamzah Setiawan MKom, koordinator tim, dikutip situs resmi umsida.ac.id edisi 4 September.
Tim Bramastana Umsida membantu keluarga korban dalam hal psikososial dan pengecekan kesehatan. “Kami banyak mengerahkan mahasiswa Prodi Psikologi dan Fakultas Ilmu Kesehatan karena fokus tugas kami di bidang tersebut. Anggota dari Prodi lain bertugas secara teknis seperti pendataan dan koordinasi,” kata dosen Prodi Informatika itu.
Gerakan tim ini di bawah koordinasi Muhammadiyah Disaster Management Center Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MDMC PDM) Sidoarjo. “Kami juga bergabung di posko BPBD provinsi dan Basarnas. Setelah koordinasi dengan Basarnas, kami juga bertugas untuk pendataan,” terangnya.
Tim Umsida di lapangan terbagi dalam dua shift; pagi sampai siang hari dan siang sampai sore.
Hamzah menceritakan pengalaman di lapangan saat tim Bramasgana ditugaskan. “Tentu saja keluarga korban panik karena lebih dari seratus korban belum ditemukan dari reruntuhan. Semakin bertambah hari, kepanikan keluarga semakin bertambah. Mereka bingung hingga mendekat ke titik reruntuhan. Di sini, tugas kami membuat para keluarga korban tidak panik dengan melakukan pendampingan psikososial.”
Syaefnah Rachmawati, anggota tim Bramasgana Umsida, menceritakan, “Awalnya kami melihat kondisi lapangan untuk mengatur strategi pendampingan psikososial dan kesehatan kepada para keluarga korban. Setelah itu tim Bramasgana berkoordinasi dengan Basarnas, BPBD, dan Kemensos untuk melakukan tindakan kepada keluarga korban di posko. Kami menyebar ke posko Kemensos dan penampungan untuk melakukan pengecekan kesehatan dan pendampingan psikososial.”
Tragedi di pondok pesantre tua di Buduran, Sidoarjo, ini terjadi pada 29 September saat musala tiga lantai runtuh. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan audit besar terhadap struktur bangunan di seluruh pondok pesantren di Indonesia.


