Oleh: Budi Winarto*
mepnews.id – Saat saya scroll aplikasi Facebook, tiba-tiba pandangan mata saya terhenti pada tayangan video yang di-share oleh website Sang Pencerah. Video itu tentang acara di Indramayu, Jawa Barat, 20 Mei 2023, oleh Prof. Dr. (HC) Dahlan Iskan.
Dalam video berduarasi 2:55 menit itu, Dahlan Iskan menjelaskan bahwa di zaman medsos yang gila-gilaan sekarang ini ada yang disebut ‘kebenaran baru’. Menurutnya, sekarang ini ‘kebenaran’ saja tidak cukup dan sudah dianggap kuno. Jadi, siapa yang mengejar ‘kebenaran’, itu sudah dianggap ketinggalan. Karena apa? Karena sudah ada ‘kebenaran baru’. ‘Kebenaran baru’ ini berbeda dengan ‘kebenaran’. Yang dimaksud dengan ‘kebenaran baru’ pada dasarnya adalah bukan fakta melainkan persepsi yang dibentuk oleh framing. Di zaman gila-gilaan seperti ini, fakta tidak lagi dianggap penting. Yang dianggap penting adalah framing. Pelaku action-nya disebut buzzer.
Saya tidak mempertajam apa yang beliau sampaikan. Namun, narasi itu menjadi pemantik saya untuk melihat sudut pandang lain dari ‘kebenaran baru’ itu sendiri.
Di era digitalisasi yang luar biasa marak sekarang ini, kebenaran bisa dipermainkan sekehendak kepentingan. Yang salah bisa tampak benar dan yang benar bisa dibuat kelihatan salah. Framing sesuatu itu dibentuk begitu kuat demi dan untuk kepetingan. Akibatnya, banyak di antara masyarakat terutama generasi muda yang sebenarnya paham namun mereka jadi tidak berdaya karena terlalu kuatnya framing. Ada pula yang tak acuh karena tidak memedulikan. Yang sebagian ini hanya berpikir yang penting sekarang hidupnya senang.
‘Kebenaran baru’ yang ingin saya sampaikan di sini adalah fenomena generasi muda dalam mencari entitas diri yang begitu rumit. Berdalih mencari identitas, generasi muda sekarang melibatkan banyak cara untuk menemukan jati dirinya. Mulai dari bahasa, pakaian, budaya yang agak menjauh dari norma ketimuran. Sampai-sampai adap dan akhlaq mulai mereka tinggalkan. ‘Kalau gak viral gak keren, bukan?’ ‘If it is not viral, it not cool, right?‘ Mungkin itu frase yang bisa menggambarkan ‘kebenaran baru’ mereka. Seolah benar, namun tidak selalu benar.
Bagaikan filosof yang ingin mewujudkan teorinya, generasi muda pun dengan budaya medsosnya sering mengafirmasi diri untuk meniru dan menjadikan dirinya seperti hal-hal yang lagi viral. Mereka mencari inovasi baru, lalu berharap apa yang mereka lakukan akan bisa seviral yang mereka tonton. Seolah tidak memiliki prinsip, tontanan itu mengalir begitu saja di beranda medsos mereka. Begitu lah kuatnya pengaruh framing pada generasi muda.
Lantas, apa yang ingin dicapai dari hal tersebut? Tentu sudah jelas; merusak akhlaq dan peradaban generasi itu sendiri.
Coba perhatikan di media sosial, apa yang terjadi dan menjadi pemikiran gerasi muda di luar negeri. Mereka sudah sibuk melakukan penelitian, merakit, melakukan percobaan-percobaan keilmuan yang positif untuk mempersiapkan masa depan. Lantas, apa yang terjadi pada sebagian generasi muda di negeri kita? Mereka masih sibuk TikTok-an agar viral. Mereka masih menggelar drama pribadi di dunia maya yang sifatnya sementara. Mereka menggelar drama dengan gaya, tingkah, bahkan perbuatan tercela yang melanggar norma untuk sekadar pingin trend.
If It’s Not Viral, It’s Not Cool, right? Kalimat itu mengasyikan, tetapi berdampak tidak selalu benar. Kalau viralnya terkait prestasi dan pengembangan potensi, kalimat itu tepat disandang. Kalau viralnya dengan melanggar norma dan akhlaq, it is NOT right!
Di kalangan aktivis dan pemeduli lingkungan, memang ada slogan ‘no viral no justice’ (yang secara grammar kurang pas karena viral adalah adjective sehingga bentuk negatifnya bukan ‘no‘ tapi ‘not‘). Slogan ini mengandung makna; ketika semua keluhan tidak didengar oleh pengambil kebijakan, ketika semua jalan aspirasi sudah dilakukan tetapi mereka masih diam, maka perlu mem-viral-kan isu. Slogan no viral no justice ini berlaku untuk mereka yang menghendaki keadilan dari para pengambil kebijakan yang punya mata tetapi pura-pura buta dan punya telinga tetapi pura-pura tuli. Mem-viral-kan satu peristiwa terkait maslahat umat adalah desakan terbaik bagi para pejabat yang lalai.
Tetapi, kalau mem-viral-kan suatu konten yang tidak ada unsur manfaat bagi khalayak, apalagi hanya untuk kepetingan pribadi, itu yang terkadang tidak tepat. Maka, jangan heran ketika di setiap ruang kelas banyak paradoks: saat kebisingan menuntun nalar, berisik saat dijelaskan dan diam saat ditanya. Itulah cerminan bagi sebagian pelajar saat mereka mengenyam pendidikan di sekolah. Bagi sebagian pelajar itu, masa depan seolah tidaklah begitu penting, karena yang penting adalah hari ini mereka bisa viral.
Saya terkadang ngeri mendengar berita angka stunting yang begitu besar di negara ini. Salah satu penyumbang besarnya kasus stunting adalah pernikahan dini alias pernikahan di bawah umur yang sebagian besar disebabkan married by accident (dinikahkan karena hamil duluan). Kebanyakan peristiwa ini terjadi saat mereka masih duduk di bangku sekolah.
Saya juga prihatin melihat anak-anak ramai berburu konten di medsos yang tidak jelas. Mereka meniru tetapi tidak tahu apa makna yang ditiru. Mengapa demikian? Karena mereka tidak memiliki kejujuran yang menyebabkan hilangnya jati diri dan prinsip hidup. Andai saja generasi muda memiliki kejujuran pada dirinya, tentu hal negatif dan tidak produktif di usianya akan bisa terhindarkan.
Saya kadang juga prihatin saat guru selaku soko penyanggah pembelajaran di sekolah malah seolah tidak mampu mengendalikan kondisi ini karena pengaruh teknologi yang secara tidak langsung sudah mengerogoti jiwa-jiwa pelajarnya. Kuatnya pengaruh konten yang hilir mudik hinggap di mata mereka, lalu menjalar ke angan dan berlanjut ke perbuatan, memengaruhi perilaku pelajar untuk meniru. Masalahnya, kebetulan yang ditiru itu bukanlah hal-hal yang baik, karena hal baik itu untuk hari ini tidaklah sekeren yang mereka harapkan.
Jika generasi muda hidup tanpa adanya kejujuran, maka mereka tidak akan pernah menemukan sejatinya dia itu siapa. Tanpa kejujuran maka langkah, tingkah dan pemikiran mereka pasti diliputi kehidupan kosong atau fatamorgana. Adanya seperti tidak adanya.
Maka, wahai generasi muda, kalian adalah penerus bangsa. Sudah saatnya kalian semua untuk jujur dengan diri kalian sendiri. Perbanyak muhasabah, kontemplasi, merenung, untuk menemukan jati diri kalian. Dengan begitu, kalian akan bisa menghitung sudah berapa banyak hal positif dan yang bermanfaat bagi masa depan kalian dari setiap detik, menit dan pergantian jam yang berjalan. Dengan begitu, saat kalian berhadapan dengan ‘kebenaran baru’, maka kalian tidak gampang terpengaruh tapi justru menjadi influencer untuk mengkampanyekan kebenaran sejati dari sumber yang benar.
Wallahu ‘alam bis-shawab.
- Penulis kelahiran Kabupaten Malang yang sekarang tinggal di Kabupaten Mojokerto di Jawa Timur


