Saling Memaafkan Setulus Hati

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Sebentar lagi akan ada banyak ucapan “Minal Aidin wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir Batin.”

Ini ucapan umum hari raya Idul Fitri di Indonesia. Begitu juga di Malaysia dan orang-orang Melayu di Singapura. Tapi, tidak diucapkan di negara-negara Arab, Pakistan, India, Afghanistan, Afrika sisi utara, dan penduduk muslim di beberapa negara lain.

Tentu, sudah banyak yang tahu bahwa ‘Minal Aidin wal Faidzin’ bukanlah arti dari ‘Mohon Maaf Lahir Batin’. Arti dari kalimat ‘Minal Aidin wal Faidzin’ kurang lebih adalah ‘Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali suci dan menang (melawan hawa nafsu selama Ramadhan)’. Namun, kedua kalimat tersebut sering diucapkan bersamaan, mungkin karena enak didengar dan ber-rima bagus, hehehehe…

Apa pun itu, yuk kita renungkan. Ketika kita berucap ‘mohon maaf lahir batin’, apakah ucapan itu benar-benar tulus mewakili isi hati? Atau sekadar diucapkan karena popularitas kalimatnya? Atau, diucapkan karena orang-orang lain mengucapkannya juga?

Memang, bermaaf-maafan tidak harus menunggu Idul Fitri. Tapi, untuk melengkapi kesempurnaan ‘kemenangan’ setelah ‘mensucikan diri’ sebulan penuh, masyarakat menjadikan ini sebagai budaya.

Kalau memang kalimat itu bertujuan untuk tulus meminta maaf, mau diucapkan kepada siapa, selain untuk orang tua?

Kepada siapa Anda mau meminta maaf lahir batin dengan tulus? Siapa manusia dalam hidup Anda yang menurut Anda perlu untuk Anda minta maaf — sekali lagi– selain kepada orang tua?

Boleh ya… buat bahan renungan sedikit, sambil nunggu Hari Raya tiba. Jika punya jawaban, silakan tinggalkan komentar di kolom bagian bawah ini.

Sebagai penutup, saya juga mohon maaf lahir batin pada Anda dengan setulus hati.

Facebook Comments

Comments are closed.