mepnews.id – Terjadi lagi kasus keracunan ikan buntal. Pada 6 Desember 2024, satu keluarga di Bima, Nusa Tenggara Barat, mengalami keracunan sehingga satu orang meninggal dan tiga lainnya mendapatkan perawatan intensif.

Eka Saputra, dosen Unair
Eka Saputra SPi MSi, dosen pengolahan hasil perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga, menyebut keracunan ikan buntal itu berbahaya. Dalam kondisi parah, keracunan ini dapat menyebabkan kematian. Karena itu, perlu pengolahan yang tepat untuk menghindari risiko keracunan ikan buntal.
Ikan buntal mengandung tetrodotoxin (TTX). Salah satu racun paling berbahaya ini terletak pada organ hati, ovarium, usus, dan kulit ikan buntal. Jika pengolahannya tidak benar, daging ikan buntal pun dapat mengandung tetrodotoxin.
“Gejala awal biasanya mati rasa pada bibir dalam 20 menit hingga 3 jam setelah konsumsi. Lalu mual, muntah, serta kelumpuhan otot. Efek kelumpuhan otot dapat menyebabkan kesulitan bernafas hingga penurunan tekanan darah yang dapat berakibat fatal,” ungkapnya.
Tetrodotoxin yang tidak dapat dihancurkan oleh panas atau proses memasak biasa. Maka, ikan buntal harus diolah dengan keahlian khusus agar dapat dikonsumsi secara aman. Kalau di Jepang, perlu sertifikasi khusus agar orang boleh mengolah ikan buntal.
“Para praktisi pengolah ikan buntal diajarkan mengidentifikasi bagian yang beracun dan menghindari kontaminasi silang. Kesalahan kecil dapat menyebabkan perpindahan racun dari organ ke daging ikan,” ungkapnya.
Sejatinya, ikan buntal memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Kandungan proteinnya cukup tinggi, kandungan lemaknya rendah sehingga cocok untuk kesehatan jantung, serta terdapat kandungan vitamin dan mineral sebagai komponen gizi.
“Namun, manfaat ini hanya dapat diperoleh jika ikan buntal diolah oleh ahli bersertifikat. Risiko tetap tinggi jika proses pengolahannya kurang benar. Di Jepang, konsumsi ikan buntal lebih dari sekadar makan; ini adalah tradisi yang menggabungkan apresiasi rasa, keahlian kuliner, dan keberanian yang terkontrol,” ungkapnya.
Eka menegaskan, masyarakat harus mengetahui karakteristik bahan baku produk perikanan. Dengan mengetahui karakteristiknya maka mudah diketahui cara proses pengolahan yang benar. Jika pengolahannya benar, produknya siap dikonsumsi lebih aman dan terjamin.
“Untuk menghindari risiko, masyarakat perlu paham bahwa konsumsi produk perikanan yang berisiko perlu adanya pengolahan dari ahli. Meski memiliki manfaat yang baik bagi tubuh, bila pengolahannya kurang tepat, dapat membahayakan,” tambahnya.


