Oleh: Eko Hendri Saiful
mepnews.id – Sektor wisata masih menjadi salah satu tumpuan pendulang pendapatan daerah. Melihat besarnya potensi wisata, Pemprov Jatim menargetkan 342 juta wisatawan bisa masuk tahun 2024. Target itu tentunya tak asal-asalan dirumuskan. Dalam menyertainya, Pemprov Jatim melalui Disbudpar Jatim juga berupaya menggali potensi-potensi wisata anyar yang bisa diberdayakan.
Salah satu yang dilirik yakni keberadaan desa wisata. Jatim memang terdata sebagai gudangnya desa wisata. Keberadaan destinasi-destinasi di wilayah pedesaan itu tak bisa dikesampingkan. Apalagi, objek wisata tidak hanya diakui masyarakat desa setempat namun juga menarik perhatian pemerintah pusat.
Salah satu buktinya bisa dilihat dari keberhasilan 12 desa wisata di Jatim masuk 100 besar ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2024 yang digelar Kemenparekraf. Jatim menjadi provinsi dengan penyumbang jumlah desa terbanyak dalam ajang tersebut, dibanding provinsi lainnya. Di bawah Jatim ada Sulawesi Selatan dengan 10 desa wisata dan Sumatera Barat dengan 9 desa wisata yang lolos di tahapan 100 besar.
Adapun 12 desa asal Jatim yang lolos 100 besar ADWI adalah Desa Wisata Bahari Nglebeng Kabupaten Trenggalek, Desa Wisata Masaran Kabupaten Trenggalek, Desa Wisata Sidomulyo Kabupaten Kediri, Desa Wisata Keling Kabupaten Kediri, Desa Wisata Sempu Kabupaten Kediri, Desa Wisata Poncokusumo Kabupaten Malang, Desa Wisata Dewi Anom Kabupaten Malang, Desa Wisata Adat Osing Kemiren Kabupaten Banyuwangi, Desa Wisata Sumberwringin Kabupaten Bondowoso, Desa Wisata Desa Wisata Kare Kabupaten Madiun, Desa Wisata Gunungsari Kabupaten Madiun dan Desa Wisata Punten Kota Batu.
Mengacu data Disbudpar Jatim, tercatat 630 desa wisata ada di Jatim. Itu terbanyak se-Indonesia. Jumlah destinasi wisata di desa berpotensi bertambah. Hal itu tak lepas dari peningkatan pasokan anggaran ke pemerintah desa melalui dana desa. Kemunculan destinasi wisata alternatif itu tentunya tak ujuk-ujuk.
Lahirnya desa wisata tidak hanya bermodal keindahan alam. Sebagian dari mereka terbentuk karena masyarakatnya sukses ‘nguri-uri budaya’. Masyarakat desa memiliki adat istiadat yang kuat dan mengakar turun temurun. Kebiasaan yang dirawat itu lantas dikomersilkan untuk kepentingan masyarakat sendiri.
Dalam pendapatnya, sosiolog Prof Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabadikan untuk keperluan masyarakat. Itu sejalan dengan pendapat Prof Koentjaraningrat.
Menurut Koentjaraningrat, ada sejumlah unsur universal dari kebudayaan. Yakni 1) sistem religi dan upacara keagamaan, 2) sistem dan organisasi kemasyarakatan, 3) sistem pengetahuan, 4) bahasa, 5) kesenian, 6) sistem mata pencaharian hidup, dan 7) sistem teknologi dan peralatan. Unsur-unsur itu masih melekat pada sebagian masyarakat desa.
Berdasarkan geoculture budaya lokal, terdapat lima residu budaya di Jawa Timur. Yakni (1) residu budaya Osing, (2) residu budaya Tengger, (3) residu budaya Madura, (4) residu budaya Mataram, (5) residu budaya Pedalungan. Prof Ayu Sutarto merinci masyarakat Jawa Timur ke dalam 13 kelompok etnik sosial, yaitu: (1) Jawa Mataraman, (2) Jawa Pesisiran, (3) Ponoragan, (4) Brang Wetan, (5) Mandalungan, (6) Malangan, (7) Tengger, (8) Samin, (9) Madura, (10) Madura pulau, (11) Arab, (12) Tiong Hoa, (13) Surabayan (ayu sutarto 2004). Masing-masing wilayah, dalam hal ini desa, sudah tentu memiliki identitas budaya yang khas yang merefleksikan nilai-nilai budaya yang dihayati dalam kehidupan masyarakatnya.
Ada banyak desa di Jatim yang memiliki budaya seperti yang dipaparkan Koentjaraningrat. Unggulannya tidak saja adat istiadat. Ada desa yang memiliki kesenian unik dan layak ‘diorbitkan’. Sebagian desa yang berbudaya dan konsisten menjaga warisan leluhur sukses bertransformasi. Desa itu tidak hanya dikenal dengan kesenian atau upacara adatnya, namun juga menyandang status desa wisata.
Ada beberapa contoh desa yang berhasil melakukan transformasi. Hal ini bisa dilihat dari anugerah ADWI 2024. Salah satu desa yang masuk sepuluh besar yakni Desa Wisata Osing Kemiren. Desa Kemiren merupakan bagian dari kawasan Ijen Geopark sebagai culture site. Kemiren memiliki budaya beraneka ragam. Mulai dari adat istiadat, bahasa, manuskrip, kesenian, tradisi lisan, ritual, pengetahuan, teknologi dan permainan tradisional.
Pengembangan desa ini tak lepas dari partisipasi warganya. Banyak homestay didirikan warga lokal dengan arsitektur Osing dan keramahan warganya membuat nyaman. Saat datang ke desa ini, wisatawan disajikan daya tarik wisata beragam. Adanya pasar Kampoeng Osing, warung makan Pesantogan Kemangi dan kawasan rumah adat Osing juga turut memanjakan wisatawan.
Selain itu, Desa Kemiren juga memiliki kesenian berupa tarian tradisional. Gandrung begitu melekat di sana sebagai hiburan dalam prosesi penyambutan. Ada juga warisan budaya tak benda seperti burdah, angklung paglak dan mocoan lontar yusup yang seringkali menjadi perhatian pelancong.
Selain Kemiraen, Jatim juga memiliki Desa Wisata Aeng Tong-tong di Kabupaten Sumenep. Desa ini memiliki galeri khusus yang menjadi ruang menampilkan produk-produk keris. Di sana juga ditampilkan keris para leluhur yang berusia 300 tahun. Galeri ini juga sebagai tempat berkumpulnya para empu, kolektor, hingga pemerhati keris. Ada juga ritual pencucian keris dan ziarah kubur kepada leluhur empu yang disebut Penjamasan Keris. Acara itu ditampilkan seiring pesta rakyat. Proses ritual adat di desa Aeng Tong-tong banyak mengundang turis masuk dari berbagai daerah.
Berbeda lagi dengan Desa Bejijong. Desa di Mojokerto ini menjadi saksi warisan budaya dinasti Majapahit. Keberadaannya juga diakui sebagai kawasan konservasi warisan budaya tingkat nasional (KCBN) dan kawasan pariwisata strategis (KSPN) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Desa Bejijong menawarkan gambaran menarik tentang masa lalu sambil merangkul masa kini. Salah satu acara menarik adalah ‘Pasar Rakyat’ yang diadakan setiap hari Minggu di Pasar Majapahit. Pasar yang penuh semangat ini menjadi wadah memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah. Di sini, pengunjung dapat menjelajahi beragam produk lokal, menikmati atmosfer yang hidup, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Di Bejijong ada banyak situs yang menarik dikunjungi. Salah satunya Makam Raden Wijaya, dikenal sebagai ‘Siti Inggil’ yang berdiri sebagai penghormatan kepada penguasa pertama Kerajaan Majapahit. Selain itu, desa ini memiliki Kuil Brahu yang megah, Kuil Tikus, Kuil Bajangratu, dan Kolam Segaran yang tenang. Masing-masing menawarkan pandangan tentang keajaiban arsitektur dan tradisi spiritual di masa lalu.
Kunjungan ke Desa Bejijong tidak lengkap tanpa menikmati hidangan kuliner tradisionalnya. Desa ini menawarkan berbagai hidangan yang menggoda selera dan meninggalkan kesan yang tak terlupakan. Tumpeng 3-warna adalah hidangan yang memanjakan mata dan lidah serta melambangkan harmoni dan kemakmuran. Keistimewaan lokal lainnya adalah ‘ikan Wader’ yang terkenal karena rasa lembut dan daging empuk.
Selain itu, ada Desa Wisata Sendang di Tulungagung. Desa ini tergolong desa wisata maju dengan pemanfaatan dana desa sangat baik. Secara geografis, Desa Sendang berlokasi di lereng gunung Wilis dengan penduduk rata-rata bermata pencaharian sebagai petani dan peternak sapi perah. Dirintis sebagai desa wisata pada tahun 2010 dan dirintis ulang menjadi desa wisata budaya pada awal 2021 dengan nama Desa Wisata Budaya Sendang.
Suasana alam yang sangat sejuk ditambah udara khas pegunungan juga hijaunya kondisi alam pasti membuat pengunjung merasa nyaman dan betah berlama-lama di Desa Sendang. Selain itu, keberagaman budaya dan kearifan lokal penduduk menjadi kekuatan utama dan daya tarik ciri khas desa dengan tagline ‘The Power of Culture’ ini.
Keberadaan Desa Osing Kemiren, Aeng Tong Tong, Bejijong, dan Desa Wisata Sendang hanya sebagian contoh desa yang memiliki unsur budaya kuat. Ada banyak desa yang sebenarnya memiliki modal serupa, namun seringkali masyarakat tak bisa memanfaatkannya. Masyarakat memang sukses nguri-uri budaya yang telah mengakar, dan regenerasi terkait kesejarahan berjalan kuat, namun mereka kurang berhasil dalam memanfaatkannya untuk kepentingan ekonomi. Hal itu tentunya menjadi catatan tersendiri. Perlu strategi untuk menyentuh masyarakat dengan beragam cara. Itu tak terlepas dari proses pendampingan secara humanis.
Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) Jatim menargetkan penambahan 60 desa wisata baru tahun 2024. Upaya menumbuhkan sarana wisata alternatif memang tak gampang. Kuncinya di SDM. Tidak cukup hanya dengan pendampingan. Pemerintah dan masyarakat desa juga harus pandai melihat potensi dan mencari peluang.
Semisal, proses pembentukan Desa Wisata Bejijong. Masyarakat tidak hanya disadarkan pendidikan sejarah, namun mereka juga diberikan pemahaman pentingnya wirausaha, sehingga mereka juga bisa bergerak dan kreatif menarik wisatawan.
Keberadaan budaya yang mengakar dalam suatu desa bisa menjadi alternatif. Kesenian, entah apapun modelnya, amat layak dijual. Kuncinya hanya masalah kemauan. Niat utama tak bisa lepas dari besarnya potensi wisata desa.
Muhammad Edy Saputro, ketua Pokdarwis Desa Osing Kemiren, pada Webinar Airlangga Berdialog 1.0 pada 31 Juli 2024 menyampaikan empat kategori Desa Wisata; Desa Wisata Rintisan, Desa Wisata Berkembang, Desa Wisata Maju dan Desa Wisata Mandiri. Dalam hal ini, kategori yang terakhir menjadi tujuan seluruh desa wisata.
Dalam konsepnya, Desa Wisata Mandiri memiki berbagai kelebihan. Kata kuncinya tidak sekadar sukses mendatangkan wisatawan, namun juga berhasil menghidupkan sektor kewirausahaan.
Desa Wisata Mandiri banyak dikenal wisatawan mancanegara dan menerapkan konsep berkelanjutan (sustainability) yang diakui dunia. Sarana dan prasarana menerapkan standar internasional, minimal standar ASEAN, serta pengolahannya secara kolaboratif pentahelix.
Edy juga menyebut, Desa Wisata Mandiri sukses memanfaatkan dana desa menjadi bagian dalam inovasi wisata. Kaitan hal ini, digitalisasi di pedesaan adalah keniscayaan. Edy melihat peran digitalisasi sangat penting dalam kegiatan promosi. Pengelola harus banyak memanfaatkan media digital untuk mempromosikan objek wisata.
- Penulis adalah wartawan Jawa Pos.
- Tulisan ini salah satu finalis kompetisi esai Inkubator Literasi Pustaka Nasional (ILPN) 2024 dengan tema ‘Ragam Pesona Jawa Timur’.


