mepnews.id – Singapura mengalami lonjakan COVID-19 hingga tercatat 25.900 kasus pada awal hingga pertengahan Mei 2024. Salah satu penyebabnya, muncul varian baru seperti JN.1 dan KP.1/KP.2 turunan dari BA.2.86. Varian ini memang lebih mudah menular, namun tidak menunjukkan tingkat keparahan tinggi. Meski demikian, lonjakan kasus ini berdampak pada sistem kesehatan karena terjadi peningkatan rawat inap dan ICU di Singapura.

Kurnia Dwi Artanti dr MKes, dosen epidemiologi
Kurnia Dwi Artanti dr MKes, dosen epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), mengungkapkan mobilitas penduduk dan aktivitas masyarakat yang tinggi bisa saja meningkatkan risiko penularan COVID-19. “Interaksi dan kontak antarindividu meningkat sehingga peluang penyebaran droplet yang terkontaminasi virus semakin besar,” ungkap Kurnia.
Karena secara geografis dekat dengan Singapura, Indonesia perlu waspada karena interaksi dan aktivitas masyarakat kedua negara cukup tinggi. Kedekatan geografis itu dapat menjadi faktor yang meningkatkan potensi penularan COVID-19. “Mobilitas penduduk dan perjalanan antarnegara bisa membuka peluang penyebaran virus melalui droplet atau kontak fisik,” ucap Kurnia.
Sebagai antisipasi, perlu peningkatan kewaspadaan masyarakat. Penting untuk mengenakan masker di tempat dengan risiko tinggi. Antara lain ketika di bangsal rumah sakit, di fasilitas perawatan kesehatan, serta saat bepergian dengan transportasi umum. “Meski penggunaan masker tidak lagi diwajibkan, ini dapat masuk dalam kategori pencegahan sekunder. Self protection atau perlindungan diri sendiri,” jelasnya.
Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sistem kesehatan untuk mencegah penularan. “Ini penting dilakukan, meskipun kita telah melakukan penyesuaian sistem kesehatan dan respons publik untuk mengelola situasi lebih efektif daripada saat awal pandemi,” tuturnya.
Vaksinasi tetap menjadi pertahanan utama dalam melawan COVID-19. Menurutnya, vaksinasi perlu digalakkan dengan mendorong masyarakat, terutama kelompok rentan, segera melengkapi vaksinasi.


