Psikologi tentang Musik yang Tidak Disukai

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Tadi malam aku dengerin musik, tapi rasanya nggak nyambung sama aku,” begitu Liza memulai obrolan.

“Oh, emang dengerin musik apa?” saya menggali info lebih dalam.

“Lagu-lagu K-Pop. Aku merasa sama sekali nggak bisa nyambung sama beat-nya.”

“Hmm, iya sih. Setiap orang punya selera musik masing-masing. Ada yangh seneng ini, yang lain seneng itu.

………….

Pembaca yang budiman, sudah banyak tentang penelitian terkait musik terutama tentang sisi positifnya. Orang bisa mendapatkan manfaat saat mendengar atau memainkan musik yang ia sukai.

Nah, saya jadi penasaran bagaimana jika seseorang berhadapan dengan musik yang tidak disukai? Jawaban awam mungkin sederhana saja, “Ya nggak usah didengar.” Tapi, saya ingin jawaban mendalam ilmiah.

Nah, salah satu yang membuka wawasan saya adalah penelitian Jonna Vuoskoski profesor musikologi dari University of Oslo di Norwegia dan Henna-Riika Peltola asisten profesor di University of Jyväskylä di Finlandia. Mereka merilis skala psikologis baru tentang keengganan musik atas musik yang tidak disukai.

Skala Pengalaman Musik Aversif (AMES) ini dikembangkan dengan meminta 102 peserta penelitian di Finlandia untuk menulis secara terbuka tentang pengalaman mendengarkan musik yang tidak mereka sukai. Para peneliti menggunakan serangkaian analisis faktor untuk memperoleh 18 item unik yang membentuk skala.

Ke-18 item itu mencakup pernyataan tentang sensasi (misalnya, “Saya merasakan sensasi tubuh yang tidak nyaman saat mendengar musik yang tidak menyenangkan”), pernyataan tentang faktor sosial (misalnya, “Saat bertemu orang yang menyukai musik yang menurut saya tidak menyenangkan, saya mulai berpikir negatif tentang orang itu”) , dan pernyataan tentang fitur (misalnya, “Suara penyanyi yang mengganggu membuat musik terdengar tidak menyenangkan bagi saya”). Setiap item dapat ditanggapi dengan skala 1-5.

Untuk menguji validitas dan reliabilitas skala, para peneliti kemudian menyajikan skala AMES itu pada 354 peserta penelitian asal Finlandia dan Inggris. Para peneliti meminta mereka menanggapi masing-masing dari 18 item pada skala Likert 1-5 (1 = sangat tidak setuju, 2 = agak tidak setuju, 3 = netral, 4 = agak setuju, dan 5 = sangat setuju). Selain itu, peserta penelitian menyelesaikan beberapa skala lain yang menilai demografi, ciri-ciri kepribadian, dan pengalaman misophonia (reaksi permusuhan yang kuat terhadap suara tertentu dan konteksnya) dan ASMR (respons meridian sensorik otonom).

Para peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ciri-ciri kepribadian atau kepekaan terkait suara lainnya dapat memprediksi tingkat keengganan terhadap musik. Mereka awalnya menemukan bahwa perempuan mendapat skor lebih tinggi dibandingkan laki-laki pada keseluruhan skala AMES serta dua subskala (sensasi dan fitur), yang menunjukkan bahwa perempuan, rata-rata, cenderung mengalami pengalaman musik yang tidak menyenangkan lebih intens dibandingkan laki-laki.

Namun, analisis selanjutnya menunjukkan bahwa perbedaan gender ini bisa dihilangkan setelah para peneliti mengendalikan faktor-faktor seperti misophonia dan emosi. Mereka juga menemukan bahwa usia merupakan prediktor signifikan terhadap skor AMES. Ini menunjukkan bahwa pengalaman ketidak-sukaan yang disebabkan oleh musik menjadi lebih intens seiring bertambahnya usia.

Pengalaman ASMR tidak berhubungan dengan skor AMES. Namun, pengalaman misophonia sangat dapat memprediksi skor AMES. Skor peserta pada Kuesioner Misophonia memiliki korelasi r = 0,54 dengan skor AMES mereka secara keseluruhan dan juga berkorelasi positif dengan subskala AMES. Dengan kata lain, orang dengan misophonia kemungkinan besar memiliki kepekaan suara yang melebihi kategori suara pemicu misophonic (seperti orang mengunyah atau mengendus), juga mencakup musik yang tidak disukai.

Bagi saya, informasi dasar ini sudah lumayan untuk menambah wawasan. Tapi, perlu dicatat, penelitian ini dilakukan lewat survei online yang meminta peserta penelitian merespons secara retrospektif tentang pengalaman mereka dengan musik yang tidak mereka sukai. Maka, penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk mengkaji apakah pengakuan retrospektif ini sesuai dengan reaksi sebenarnya saat orang mendengarkan musik yang tidak ia sukai.

Yang mjenarik, peneliti menyimpulkan bahwa secara keseluruhan efek musik terhadap kognisi dan emosi sangat bergantung pada kondisi musiknya. Musik yang disukai dapat memberikan dampak positif dalam beberapa hal. Musik yang tidak disukai juga dapat menimbulkan efek negatif dalam beberapa hal.

Karena masyarakat mempunyai selera musik yang unik, maka peneliti merasa perlu berhati-hati saat memilihkan musik untuk penelitian mereka. Misalnya, dalam studi induksi suasana hati, mungkin tidak efektif untuk memilih lagu yang dinilai sangat menyenangkan. Pertimbangannya, bahkan lagu yang paling populer pun bisa menimbulkan ketidak-sukaan bagi pendengar tertentu.

Facebook Comments

Comments are closed.