mepnews.id – Nadya Andini luar biasa. Terlahir dengan kondisi difabel low of hearing (kurang dengar), ia bisa menjadi sarjana lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Lebih istimewa, mahasiswi Departemen Studi Pembangunan ini menyelesaikan studinya dalam waktu 3,5 tahun. Lebih-lebih-lebih istimewa lagi, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya 3,88 atau hampir mendekati sempurna sehingga meraih predikat cum laude.
Tak pelak, usai menerima ijazah dari Rektor dalam prosesi wisuda 21 April 2024, Nadya diberi kesempatan menyampaikan pesan dan kesan di hadapan semua hadirin. Ia mengungkapkan, berkuliah di ITS bukan hal mudah bagi para disabilitas. “Namun, dukungan dan motivasi dari para dosen dan teman-teman membawa energi positif bagi saya untuk terus berjuang meraih impian.”
Ya, prestasi cemerlang itu tentu diraih dengan cara tidak gampang oleh penyandang gangguan indera pendengaran. Yang pasti, gadis kelahiran Pamekasan 24 Mei 2001 ini membuktikan bahwa pendidikan setinggi mungkin bisa diraih dengan tekad kuat dan usaha ekstra.
Alat bantu dengar yang ia pakai ternyata kurang membantu telinganya menangkap suara secara sempurna dalam perkualiahan. Maka, ia selalu duduk di bangku terdepan menggunakan ponsel untuk merekam penjelasan dosen. “Di rumah, saya minta bantuan mama mendengarkan rekaman tadi dan menjelaskannya ulang,” tuturnya.
Belajar di lingkungan dengan mayoritas orang berkondisi normal, Nadya sempat kesulitan beradaptasi. Tak jarang ia kewalahan ketika berkomunikasi dengan teman-temannya. “Mereka terkadang susah menangkap kalimat saya karena pelafalan kurang jelas. Saya pun lumayan sulit mendengar hal yang mereka sampaikan,” ungkap Nadya.
Kendati demikian, gadis berkacamata ini tetap berambisi menimba ilmu. Dengan keterbatasan, ia berusaha terus berproses menjadi mahasiswa kompeten. “Karena kurang bisa memahami materi di kelas, saya memaksimalkan pemahaman dengan menambah sesi belajar mandiri di rumah setiap hari,” ujarnya.
Ambisi dan semangat membawanya berkembang menjadi sosok yang percaya diri. Ia banyak mencoba hal baru di luar akademik. Ia mengikuti sejumlah perlombaan, berpartisipasi dalam dua kali Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) Karya Tulis Ilmiah dengan membawa rancangan aplikasi tunarungu.
Nadya juga mengikuti program magang di dalam maupun di luar kampus. Antara lain Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI) 2021 – Short Course Pemetaan Sosial, proyek independen antara Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital (FDKBD) ITS dengan Intako, serta magang mandiri di PDAM Surya Sembada Kota Surabaya.
Yang lebih signifikan, ada doa dan dukungan orang-orang terdekat. Nadya merasa setiap langkahnya selalu diiringi motivasi dari ibunya untuk terus bangkit dan berjuang. “Mama selalu mendukung saya untuk berkembang dengan segala keterbatasan,” ucap Nadya.
Ia berharap kisahnya sebagai mahasiswa difabel yang menimba ilmu di Kampus Pahlawan ini dapat menjadi inspirasi bagi orang lain yang mengejar mimpi. “Keterbatasan hanyalah awal perjalanan. Jangan menyerah. Teruslah melangkah untuk meraih cita-cita pendidikan,” pesan gadis yang hobi menggambar ini. (Putu Calista Arthanti Dewi)


