Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Kalau biasanya teman-teman yang curhat, kali ini giliran saya mau bercerita sedikit tentang kebiasaan keluarga saya. Di rumah saya entah ada berapa buku yang tertata di rak, tersimpan di kontainer plastik, ada yang berserakan di meja atau tempat tidur. Tapi, saat mampir di Kampoeng Ilmu di Jalan Semarang di Surabaya, atau di toko buku loakan di Malang, di Kwintang Jakarta, Central Blibliotic di Bandung, dan tempat-tempat sejenis, selalu ada perasaan semacam mellow. Saya seolah merasa banyak ide dan fakta yang terkuburkan bersama buku-buku usang itu.
Soal perasaan itu, saya jadi ingat istilah ‘vellichor‘ yang dibuat John Koenig. Lewat karyanya ‘The Dictionary of Obscure Sorrows‘, si penulis dan pembuat film asal Amerika ini membuka jalan untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman manusia yang sulit diungkapkan secara verbal. Menurutnya, bahasa Inggris sering kali kurang mampu menangkap nuansa emosional yang kompleks dan dalam, terutama saat menggambarkan perasaan-perasaan yang tidak lazim atau tidak umum. Nah, mungkin saya mengalami hal semacam itu.
Vellichor, menurut Koenig, adalah perasaan aneh yang ditimbulkan dari toko buku bekas.
Toko buku bekas, yang entah bagaimana seiring berlalunya waktu, dipenuhi ribuan buku tua yang tidak pernah sempat Anda baca, yang masing-masing terkunci di zamannya sendiri, dijilid, diberi tanggal, dan dilapisi kertas seperti sebuah ruangan tua yang ditinggalkan si penulis bertahun-tahun lalu. Semacam paviliun tersembunyi yang dipenuhi pikiran-pikiran yang sama seperti saat ide-ide itu ditangkap penulis. Perasaan yang mendalam ini bisa muncul ketika seseorang merenungkan atmosfer buku-buku lama atau perpustakaan tua; semacam nostalgia yang hangat dan tenang yang terkait dengan pengalaman membaca dan menjelajahi dunia buku.
Saya, atau Anda dan orang-orang tertentu lainnya, bisa mengalami vellichor karena pengalaman dan kecenderungan pribadi terhadap membaca, penghargaan terhadap kenangan, atau kedekatan dengan lingkungan kehadiran buku-buku lama atau perpustakaan tua. Vellichor bisa tumbuh karena kebiasaan membaca. Orang yang tumbuh dengan membaca banyak buku atau memiliki kebiasaan membaca cenderung lebih mudah mengalami vellichor. Begitu juga dengan orang yang memiliki hubungan emosional kuat dengan buku, karena menemukan kenyamanan, inspirasi, atau hiburan dalam membaca.
Ada beberapa manfaat psikologis dari pengalaman vellichor. Mengalami vellichor dapat memberikan perasaan kenyamanan emosional dan kebahagiaan mendalam. Rasanya seperti terhubung dengan aspek yang mendalam dari diri kita dan masa lalu kita, yang dapat meningkatkan kepuasan hidup secara keseluruhan.
Kalau berjiwa seni, sensasi vellichor dapat memicu imajinasi dan kreativitas. Pengalaman ini dapat menginspirasi kita untuk mengekspresikan diri melalui seni, menulis, atau melalui pembacaan lebih dalam dan reflektif. Pengalaman vellichor juga memberikan kesempatan merenungkan nilai-nilai, pengalaman, dan emosi lebih mendalam. Ini bisa menjadi waktu yang berharga untuk refleksi pribadi dan pengembangan diri.
Saya beberapa kali sudah merasakannya. Bagaimana dengan Anda?


