Mengelola Angpao Lebaran sesuai Usia Anak

mepnews.id – Saat unjung-unjung Lebaran, salah satu hal yang dinantikan anak-anak ialah mendapat angpao berisi uang. Tentu saja, mendapat tambahan uang itu baik untuk anak. Tapi, anak juga perlu diajari mengelola uang agar tidak cepat habis untuk beli sesuatu dengan boros.

Fatkur Huda ME, dosen UM Surabaya

Maka, lewat situs resmi um-surabaya.ac.id edisi 3 April 2024, Fatkur Huda dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Surabaya membagikan tips bagi orang tua untuk mengajari anak mengelola angpao Lebaran dengan bijak.

Pertama, memahamkan anak tentang konsep kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang memang diperlukan. Keinginan adalah sesuatu yang sekadar diinginkan. Tidak didapat pun tidak apa-apa. Maka, anak diajari mengelola uangnya dengan memprioritaskan kebutuhan.

Cara ini dapat diajarkan pada anak usia 4-6 tahun. Anak sudah dapat diajak berdiskusi tentang apa yang harus dibeli sebagai kebutuhan atau hanya sebagai keinginan. Contoh, beli kebutuhan sekolah yang sifatnya menunjang pembelajaran. Kalau ingin punya handphone baru, itu bisa ditunda dulu.

Kedua, mengajarkan pengelolaan keuangan produktif. Jangan biarkan anak menjadi hanya semakin konsumtif setelah tiba-tiba mendapat uang lebih banyak.

“Anak yang sudah memasuki usia SD dengan usia 7-12 tahun dapat kita arahkan untuk belajar produktif dalam mengelola keuangan. Hal ini agar uang yang diterima tidak habis dalam waktu sekejap,” imbuhnya.

Anak dapat diarahkan membelanjakan uang ke arah yang produktif, misalnya menabung, investasi jangka pendek, atau belajar wirausaha. Maka, orang tua perlu mendampingi anak menentukan tujuan investasi atau usaha yang dilakukan. Di kemudiaan hari, bisa dilakukan evaluasi bersama.

Ketiga, mengajarkan anak belanja dengan bijak. Memasuki usia SMP usia 13-15 tahun, perlu pendekatan lebih dewasa. Anak seusia ini sudah memiliki pilihan dalam belanja. Namun, tentu perlu diingatkan lagi konsep kebutuhan dan keinginan. Lalu, beri anak kebebasan mengelola uang Lebaran dengan bijak.

Fatkur menegaskan perlunya memberikan tambahan pengetahuan tentang cara kerja uang yang tidak sebatas sebagai alat tukar barang tapi juga dapat sebagai alat investasi masa depan jangka panjang. Misalnya, investasi dana pendidikan dengan membuka rekening atas nama anak atau menginvestasikan dalam bentuk emas.

Keempat, mengajarkan anak kemandirian mencari uang. Saat usia SMA 16-18 tahun, anak masuk kategori remaja atau belum dewasa. Segala kebutuhannya masih jadi tanggung jawab orang tua. Namun, untuk pembelajaran, anak harus dipahamkan cara mencari uang sendiri. Tujuanya bukan untuk memenuhi kebutuhannya, melainkan agar si anak mengerti akan kemandirian dalam mencari uang.

“Karena mencari uang itu tidak mudah, maka dia bisa lebih berhemat dan berhati-hati mengelola uang saat telah mendapatkan,” kata Fatkur.

Facebook Comments

Comments are closed.