Apa yang Salah dengan Si Pansos alias Social Climber?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, coba perhatian Si Fulania. Belakangan ini dia terlalu keras mencoba untuk terlihat seperti orang penting. Dia mencoba masuk ke tempat-tempat gaul dan sering menyebut orang-orang penting yang dia kenal di situ,” begitu seorang teman arisan mulai curhat.

“Hmm, rasanya memang dia begitu. Kita tahu dia ingin sukses, tapi sepertinya dia mencoba terlalu keras,” jawab saya.

“Saya khawatir dia kehilangan dirinya sendiri dalam upaya kerasnya naik status sosial. Saya koq merasa dia sudah berubah menjadi lebih dangkal dan kurang tulus….”

“Iya. Saya bisa memahami. Memang sulit melihat teman kita mengalami perubahan berat seperti itu.”

………..

Pembaca yang budiman, Si Fulania yang kami gunjing itu bisa digolongkan sebagai seorang social climber. Ia berusaha menaikkan status sosialnya dengan cara-cara yang mungkin tidak tulus atau tidak layak. Ada yang menyebutnya sebagai ‘pansos’ (panjat sosial) untuk terlihat dia lebih kaya, lebih berpendidikan, atau bisa bergaul dengan lingkungan sosial tertentu. Padahal, itu tidak sepenuhnya mencerminkan siapa dia sebenarnya.

Bagi saya, berusaha menaikkan status sosial itu wajar-wajar saja, dan bahkan banyak baiknya. Apa tidak boleh orang miskin berusaha keras untuk jadi lebih kaya? Apa salah anak dari keluarga buta huruf mengejar pendidikan setinggi mungkin hingga tingkat doktoral? Itu semua baik. Namun, kadang ada orang yang ‘pansos’ dengan cara berlebihan, tidak wajar, hingga kehilangan jati dirinya.

Ada orang yang merasa perlu melakukan social climbing karena ingin mendapatkan pengakuan dan status sosial. Ia berkeyakinan, status sosial tinggi bisa membawa pengakuan dan penghargaan dari masyarakat pada dirinya. Ia berusaha naik dalam hierarki sosial untuk mendapatkan status yang lebih diakui.

Ada juga orang ‘pansos’ demi untuk mendapatkan kesempatan dan keuntungan. Dengan memiliki kontak atau akses ke lingkungan sosial tertentu, ia bisa mendapatkan lebih banyak peluang, atau koneksi, atau keistimewaan yang bermanfaat secara ekonomi atau profesional.

Bisa juga, naik dalam status sosial dapat memberi seseorang pengaruh lebih besar dalam lingkungan politik, bisnis, budaya, atau lainnya. Ini bisa menjadi daya tarik bagi orang yang ingin memiliki dampak lebih besar dalam kehidupannya.

Tapi, ada juga yang jadi social climber hanya karena merasa tidak nyaman atau rendah diri. Ia merasa insecure dengan status sosial atau ekonomi saat ini. Ia berpikir, naik dalam hierarki sosial dengan berbagai cara akan membuat ia merasa lebih dihormati atau dihargai oleh orang lain.

Ada juga yang pansos sekadar karena persepsi kebahagiaan. Dia menganggap bahwa memiliki lebih banyak uang, lebih banyak kekuasaan, atau banyak koneksi dengan orang-orang yang dianggap berstatus tinggi akan membawa kebahagiaan dan kepuasan hidup.

Maka, tentu ada berbagai efek negatif saat seseorang siap melakukan berbagai cara baik atau buruk untuk social climbing. Jika social climbing yang tidak wajar, yang tidak tulus, yang tidak jujur, maka bisa saja ia justru kehilangan kepercayaan dari orang-orang atas yang dia tuju dan kehilangan kepercayaan dari orang-orang bawah tempat ia berasal.

Selain itu, upaya ‘pansos’ dengan cara yang tidak jujur dapat menyebabkan ia kehilangan identitas diri sendiri. Karena terlalu fokus pada penampilan atau citra sosial kelas atas, ia jadi kehilangan nilai-nilai dasar yang sebenarnya sudah dia miliki.

Hubungan yang dibangun berdasarkan social climbing yang tidak murni cenderung rapuh dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Saat orang-orang sekitar merasa hubungan itu tidak tulus, mudah saja ia mencampakkan dia. Banyak orang kesal karena merasa dimanfaatkan saat ia mencoba naik status sosial dengan cara yang tidak wajar.

Di sisi pribadi, upaya terus-menerus meraih citra sosial yang bukan merupakan refleksi dari jati diri juga dapat menyebabkan dia jadi stres dan cemas terus-menerus. Hal ini karena ia harus terus berpura-pura atau berusaha mempertahankan citra yang tidak sesuai dengan dirinya sendiri. Ini sungguh berat secara mental.

Fokus yang terlalu besar pada social climbing dapat menyebabkan ia kehilangan keseimbangan dalam kehidupan pribadi. Demi mencapai status lebih tinggi, ia mengabaikan aspek-aspek penting lain dalam kehidupannya, termasuk urusan pribadi, kesehatan, dan kebahagiaan,

Dalam banyak kasus, social climbing yang dilakukan dengan cara yang tidak jujur atau tidak murni dapat menghasilkan berbagai dampak negatif bagi individu tersebut, serta bagi orang-orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, jadilah orang yang wajar-wajar saja. Terimalah dan jalani takdir Tuhan dengan ikhlas. Jika memang berupaya pansos, silakan saja, asal upaya membangun hubungan sosial itu dengan cara yang wajar, tulus dan jujur, serta tetap setia pada nilai-nilai dan identitas diri sendiri.

Facebook Comments

POST A COMMENT.