Gunakan Kelambu untuk Tangkis Ular Berbisa

mepnews.id – Ada banyak info menarik saat Universitas Gadjah Mada menggelar kuliah umum bertajuk ‘Mengenali Resiko Perjalanan terkait Kejadian Keracunan Gigitan Binatang Berbisa’, pada 20 Maret 2024 di Ruang Auditorium Gedung Tahir Foundation FK-KMK UGM. Nara sumber acara itu Dr dr Tri Maharani MSi SpEM, peneliti dampak gigitan ular dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kemenkes RI.

Dikabarkan situs resmi ugm.ac.id, Tri Maharani mengingatkan untuk tidak menganggap remeh gigitan ular. Di Indonesia, seperempat dari total kasus gigitan ular berasal dari jenis ular berbisa. Masalahnya, rumah sakit atau Dinas Kesehatan belum bisa menyediakan antivenom untuk semua ular.

Diungkapkan, tidak semua gigital ular mengandung venom (bisa beracun). Dari 370 jenis ular, hanya sebagian yang gigitannya menimbulkan risiko morbiditas. Yang mematikan antara lain ular weling, ular welang, ular kobra, king kobra, dan beberapa jenis ular dari Papua.

Sepanjang tahun 2018 – 2023, kasus yang paling banyak ditemukan adalah gigitan ular kobra jawa (Naja sputatrix). Bekas gigitan ular ini sangat khas dengan menimbulkan nekrosis, pembengkakan, bersifat kardiotoksin, dan neurotoksin.

“Di Indonesia, ada dua spesies kobra yakni kobra jawa dan kobra sumatra (Naja sumatrana). Namun, belum ada antivenom dari pabrik di Thailand dan Australia. Jadi kita harus bikin sendiri,” kata Tri Maharani.

Ia menjelaskan, kobra jawa ini endemik di pulau Jawa, Bali, Madura, Lombok, Sumbawa, Flores, dan Alor. Kobra sumatra penyebarannya di Sumatra, Bangka, Belitung, dan Kalimantan.

Selain kobra, ia juga menemukan banyak kasus gigitan ular tanah (Calloselasma rhodostoma) yang menurutnya sudah menjadi permasalahan serius. Awalnya, 135 ribu kasus ditemukan setiap tahunnya di Indonesia. Namun, setelah mendapat sampel kasus gigitan ular tanah di Lebak Banten, saja ia meralat hitungan tersebut.

Di Banten saja pada 2023 ditemukan 1.036 kasus. Naik dari tahun sebelumnya ada 878 kasus. “Ribuan kasus hanya terjadi di satu Kabupaten, artinya besar kemungkinan kasusnya bisa mencapai 350 ribu kasus di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sulitnya menurunkan angka fatalitas dan morbiditas dari gigitan ular, menurut Maharani, disebabkan masyarakat masih lebih percaya ke dukun daripada mengobati secara medis. “Mereka masih datang ke dukun, meskipun beberapa antivenom jenis ular tertentu sudah ada. Kita sudah siapkan rumah sakit rujukannya,” jelasnya.

Untuk menangani pengobatan dan perawatan kasus gigitan ular berbisa, kata Maharani, pihaknya membentuk poison center dan riset pengembangan antivenom. Kemenkes juga meluncurkan buku pedoman penanganan gigitan atau sengatan hewan berbisa serta keracunan tumbuhan dan jamur. Buku ini berisi soal tata laksana pada pertolongan pertama hingga penanganannya.

Di Puskesmas, pasien yang kena gigitan ular tidak diberi antivenom tapi diberi anticholinesterase. Setiap Puskesmas mendapatkan dua vial untuk diberikan kepada pasien yang memerlukan sebelum dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan anti venom atau bantuan ventilator.

“Tahun 2022, kita sudah diberikan 10 ribu vial. Di Papua, sudah habis. Dari sebelumnya 100 persen kena kasus gigitan ular meninggal, sekarang sudah turun menjadi 80 persen,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ular adalah reptil tak berkaki dan bertubuh panjang di mana seluruh tubuh tertutup lapisan kitin yang berbentuk sisik-sisik. Ular tidak mempunyai daun telinga dan gendang telinga sehingga tidak ada keistimewaan pada ketajaman indera telinga. Mata ular selalu terbuka dan dilapisi selaput tipis sehingga mudah melihat gerakan sekelilingnya, tapi ia tidak dapat memfokuskan pandangannya. Ular baru dapat melihat dengan jelas dalam jarak dekat,”

Maharani juga memberikan edukasi bagaimana cara agar terhindar dari gigitan ular. Jangan selalu percaya mitos bahwa menaburkan garam atau cairan pembersih bisa terhindar dari gigitan ular. Secara ilmiah, cara-cara itu tidak terbukti. Namun, berdasarkan pedoman WHO, menggunakan kelambu saat tidur ternyata lebih efektif menghindari gigitan ular maupun nyamuk.

“Patut diberitahukan ke masyarakat tentang pentingnya menggunakan kelambu saat tidur. Selain terhindar dari gigitan ular, juga bisa mencegah DBD yang disebarkan nyamuk,” katanya. (Gusti Grehenson)

Facebook Comments

Comments are closed.