Ratu Adil, Ramalan Jayabaya dan Perlawanan Wong Cilik

mepews.id – Sindhunata, budayawan yang juga wartawan, menjadi pembicara dalam bedah buku yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial, Hukum dan Ilmu Politik (FISHIPOL) Universitas Negeri Yogyakarta, sekaligus peluncuran terbitan Gramedia itu.

Dikabarkan situs resmi uny.ac.id edisi 20 Februari 2024, acara bertajuk ‘Bedah Buku Ratu Adil: Ramalan Jayabaya dan Sejarah Pahlawan Wong Cilik’ ini diselenggarakan di Ruang Ki Hajar Dewantara, Lantai 4 Dekanat FISHIPOL UNY.

Buku ini hasil disertasi Sindhunata sewaktu menempuh studi doktoral pada 1992 di Hochshule fur Philosophie, Philosophische Fakultat, di Muenchen, Jerman. Buku ini terjemahan dari disertasi yang naskahnya sempat mangkrak 30 tahun.

“Saya sendiri heran mengapa setelah 32 tahun baru saya terjemahkan. Mungkin ini kekuatan waktu. Seperti dikatakan Ramalan Joyoboyo, waktu menerapkan pada dirinya apa yang dia buka. Buku ini datang pada waktu yang pas sebab Ratu Adil bukan datang sebagai person, tetapi pendekatan realitas demokrasi saat ini,” ujar penulis kelahiran Batu, Jawa Timur, itu.

Ia bercerita, penulisan berawal dari profesinya saat menjadi wartawan Kompas yang fokus pada wong cilik. “Wong cilik itu nir-aksara (tanpa tulisan atau tanpa dokumen), sehingga awalnya sangat sulit menuliskannya dan mendalaminya karena kekurangan literatur.”

Namun, setelah bergulat dengan sejarah, melalui pendekatan sastra, dan tradisi kebatinan, ia menemukan kekayaan implisit dari wong-wong cilik.

Eka Ningtyas, dosen Ilmu Sejarah yang turut serta dalam acara itu, sempat menganggap buku itu dilatarbelakangi oleh agama. “Ternyata, Romo Sindhu sendiri mengatakan, di buku ini wong cilik bukan dilihat dari agama tapi dari kebudayaan. Pandangan kebudayaan dapat menggerakkan pola pikir dan api semangat wong cilik dengan caranya sendiri.”

Ia sempat fokus pada kover buku ayam jago. Gambar ini simbol kuat terutama dalam kancah perpolitikan. Dalam politik, wong cilik tidak memiliki ruang berekspresi sehingga hanya bisa melakukan perlawanan secara simbolisme. Salah satu gerakan protes melawan kolonialisme adalah lewat sabung ayam. Rakyat kecil berkumpul dan merasakan ‘desir-desir’ kalah dan menang seperti dalam medan perang.

Selain pada covernya, dosen FISHIPOL heran mengapa banyak kata ‘pemberontakan’. “Jika memiliki keberpihakkan pada wong cilik, kata ini mengarah kepada power atau kekuasaan.”

Menanggapi Eka, Sindhunata mengatakan pemilihan kata ‘pemberontakan’ merupakan varian dari protes. ‘Pemberontakan’ memiliki daya dobrak dari perlawanan. Rakyat kecil tidak sekadar melawan, tetapi juga berani berkorban walaupun kalah untuk menunjukkan bahwa harapan sangat berharga.

Yang lebih menarik, Prof Suminto A. Sayuti dosen Bahasa dan Sastra menjudulkan buku tersebut ‘Ratu Adil: Heroisme Orang Kalah‘. Alasannya, sejarah selalu berorientasi pada orang-orang yang menang dan dominan. ‘Heroisme Orang Kalah’ juga mengartikan bahwa kemarin dan esok adalah hari ini. Artinya, wong cilik seperti jiwa. Kalau diusir, maka derita dan harapan mereka menjadi satu.

Menurutnya, isi buku ini telah dirangkum dalam pembukanya yaitu puisi Senandung Ratu Adil. Pada puisi tersebut, Suminto melihat Ratu Adil dalam sudut pandang berbeda, yaitu sosok yang dapat bertanya dan menjawab.

Di bagian epilognya, penulisan menggunakan metode narrative inquairy menjadi penting ketika menuliskan sejarah. Hal tersebut terlihat dari cerita tentang Pak Bowo dan jagonya.

Romo Sindhu menanggapi istilah ‘wong cilik’ yang menggambarkan rakyat miskin dan menderita. Menurutnya, wong cilik memiliki spirit heroik. Sayangnya, banyak yang dibutakan dan ditindas. Kebudayaan yang dimiliki wong cilik adalah satu-satunya yang membuat mereka berani melawan.

Penulis buku Anak Bajang Menggiring Angin ini juga menjelaskan, temuannya mengenai Ratu Adil merupakan khasanah lokal yang memiliki dasar universal. Ratu Adil dapat direfleksikan sebagai harapan. Secara histori, perlawanan semacam ini juga ada di Vietnam, Filipina, Myanmar, bahkan di Barat ini dikenal dengan ‘Perang Petani’.

Ia mengungkapkan, meneliti wong cilik memiliki nilai humanisme dan pengharapan universal yang layak direalisasikan. (Lia Ika Agustin, Vicky Sa’adah)

Facebook Comments

Comments are closed.