UGM Panen Perdana Padi Gamagora 7

mepnews.id – Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan panen raya perdana padi Gamagora (Gadjah Mada Gogo Rancah) 7 di Ngawi, Jawa Timur. Panen di lahan 1,5 hektare milik warga di Desa Guyung, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi, ini menghasilkan 9.6 ton gabah kering panen per hektare.

Dikabarkan situs resmi ugm.ac.id edisi 22 Desember 2023, Gamagora 7 merupakan hasil mutan radiasi dari padi Rajalele Klaten dari golongan Indica. Varietas ini memiliki karakter unggul, adaptif terhadap perubahan iklim sehingga bisa ditanam di musim kering maupun lahan tadah hujan. Selain itu, Gamagora 7 memiliki ketahanan terhadap wereng batang cokelat biotipe 2, penyakit hawar daun bakteri patotipe III, penyakit blast ras 033, ras 073, dan ras 133.

Varietas ini salah satu implementasi Innovation Grant dari Program PrimeStep di bawah koordinasi Direktorat Pengembangan Usaha UGM yang dikembangkan para peneliti di Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM.

Gamagora 7 merupakan varietas ketiga yang pernah diluncurkan UGM dengan SK pelepasan Kementerian Pertanian pada Maret 2023. Varietas ini telah diujicobakan pada lahan sawah di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain Ngawi, varietas ini diujicobakan di tanaman di Banyumas, Wonogiri, Pati, Blora, dan Cepu. Sementara untuk budi daya di Ngawi merupakan hasil kerja sama pentahelix antara UGM, Agrisparta, WIM, Pemkab Ngawi, serta kelompok tani Bina Sparta.

Direktur Penelitian UGM, Prof Dr Mirwan Ushada STP MAppLifeSc, menyampaikan pengembangan varietas Gamagora 7 ini salah satu upaya mendorong kedaulatan pangan nasional. “Kedaulatan pangan menjadi perhatian UGM. Tapi ini tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga kata kuncinya ada pada kerja sama pentahelix yang melibatkan banyak pihak,” kata ia di hadapan para petani saat panen raya di Ngawi.

Karenanya, UGM membuka pintu kolaborasi dengan berbagai pihak dalam pengembangan dan budi daya Gamagora 7. Dengan begitu, diharapkan produk hasil riset UGM ini bisa memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

Peneliti Gamagora 7, Prof Taryono, berharap padinya bisa dimanfaatkan masyarakat luas. “Harapannya padi Gamagora 7 ini tidak hanya mendukung misi UGM dalam kedaulatan pangan nasional, tetapi juga dapat meterakan masyarakat yang membudidayakannya.”

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi, Ir Eka Srirahayu MSi, menyampaikan terima kasih atas kerja sama pembudidayaan padi Gamagora 7. Ia berharap implementasi hasil penelitian UGM ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Ngawi.

“Kami sangat mengapresiasi pengembangan dan budi daya Gamagora 7 di Ngawi. Diharapkan varietas baru dengan nilai ekonomi tinggi ini bisa lebih banyak menggaet petani untuk membudidayakannya sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan,” paparnya.

Eka mengungkapkan, saat ini sebagian besar petani di Ngawi memudidayakan padi jenis Inpari 3. Kehadiran Gamagora 7 ini bisa menjadi alternatif pilihan masyarakat. “Saat ini Gamagora 7 sudah berhasil dibudidayakan di musim kering. Tantangan ke depan, diujikan di sini saat musim basah,” ucapnya.

Penanaman Gamagora 7 di Jawa Timur, termasuk di Ngawi, dilakukan UGM dengan menggandeng Agri Sparta. Yaser Hadi Putra, CTO PT Agri Sparta, mengatakan padi Gamagora 7 terbukti cukup resisten terhadap cuaca. Ditanam saat musim kering, bisa menghasilkan 9.6 ton gabah penen kering per hektare.

Dalam pembudidayaan varietas ini dilakukan bersama kelompok tani Bina Sparta Ngawi dengan mengaplikasikan mekanisasi pertanian dan pemanfaatan teknologi.

Kepala Desa Guyung, Sumino, menyebutkan saat ini ada enam varietas yang dibudidayakan di lahan warga seluas 7 hektare. Salah satunya Gamagora 7 yang mulai dibudidayakan sejak September 2023 di luasan 1.5 hektare.

Sejak awal penanaman Gamagora 7, ia memiliki harapan besar varietas ini bisa memberikan hasil maksimal dan bisa memberikan manfaat yang dirasakan langsung bagi warganya. “Hasil panen bagus,” terangnya. (Ika)

Facebook Comments

Comments are closed.