mepnews.id – Belakangan ini, santer perdebatan tentang penyebaran nyamuk Wolbachia di Indonesia. Seiring seruan PBB, nyamuk Wolbachia disebarkan pemerintah di Jakarta Barat (DKI Jakarta), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Bontang (Kalimantan Timur), dan Kupang (Nusa Tenggara Timur). Tak pelak, reaksi pun bermunculan.
Wolbachia adalah bakteri yang hidup sebagai parasit pada hewan. Infeksi Wolbachia akan menyebabkan partenogenesis (perkembangan sel telur yang tidak dibuahi), kematian pada hewan jantan, dan feminisasi (perubahan serangga jantan menjadi betina). Bakteri ini tergolong ke dalam Gram negatif, berbentuk batang, dan sulit ditumbuhkan di luar tubuh inangnya.
Nyamuk Wolbachia adalah nyamuk yang sengaja diinfeksi bakteri ini. Yang dipilih, nyamuk jenis Aedes aegypti. Nyamuk ini sering menjadi permasalahan saat musim penghujan karena bisa membawa virus dengue pemicu penyakit demam berdarah pada manusia.

Prof Aryati, guru besar FK Unair.
Prof Dr Aryati dr MKes SpPK(K), Guru Besar di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), mengungkapkan penelitian mengenai nyamuk Wolbachia telah melalui perjalanan panjang.
“Perjalanan nyamuk Wolbachia ini sudah berlangsung sejak 2011,” ujar anggota Tim Ahli Kajian Risiko Wolbachia Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sejak 2016 itu.
Siaran pers oleh Pusat Komunikasi dan Informasi Publik Unair 6 Desember 2023 mengabarkan, pemerintah Indonesia pada 2017 melancarkan aksi Applying Wolbachia to Eliminate Dengue (AWED).
“Analisis soal kemungkinan terjadinya perdebatan oleh masyarakat terkait nyamuk Wolbachia sudah terpikirkan sejak dulu,” kata Prof Aryati.
Selain Indonesia, sudah ada negara lain yang menggunakan inovasi nyamuk ini. Mulai dari Australia, Brazil, Kolombia, El Salvador, Sri Lanka, Honduras, Laos, Vietnam, Kiribati, Fiji, Vanuatu, Kaledonia Baru, hingga Meksiko.
Wolbachia merupakan bakteri alami Gram negatif yang secara alami ada pada serangga seperti kupu-kupu, lalat, dan lebah. “Yang paling terkenal kandungan Wolbachia ada di lalat buah Drosophila melanogaster,” kata Prof Aryati.
Wolbachia merupakan salah satu teknologi biologis untuk pengendalian nyamuk Aedes aegypti penyebar demam berdarah. Nyamuk Aedes aegypti yang sudah mengandung Wolbachia menghasilkan siklus berbeda saat proses perkawinan.
Nyamuk Wolbachia jantan yang kawin dengan nyamuk Aedes aegypti non Wolbachia betina tidak akan menghasilkan telur yang menetas. “Nyamuknya jadi mandul, tidak bisa menghasilkan keturunan,” papar Prof Aryati.
Nyamuk Wolbachia betina yang kawin dengan nyamuk Aedes aegypti non Wolbachia jantan akan menghasilkan telur dengan gen Wolbachia.
“Kalau sama-sama nyamuk Wolbachia jantan dan betina kawin, mereka menghasilkan telur yang menetas dan mengandung Wolbachia,” jelasnya.
Setelah melalui penelitian panjang, terbukti keberadaan nyamuk Wolbachia menurunkan kasus kasus demam berdarah 77,1 persen. Jumlah perawatan di rumah sakit akibat demam berdarah menurun 86 persen.
Nyamuk Wolbachia, meski mengandung bakteri, namun bakterinya tidak bisa menginfeksi manusia. “Bakterinya tidak mungkin pindah karena hanya berada pada tubuh nyamuk. Gigitan nyamuk Wolbachia tidak akan menyebabkan manusia sakit,” ungkap Prof Aryati.
Nyamuk Wolbachia tidak mengurangi populasi nyamuk Aedes aegypti, namun menekan penyebaran virus dengue. Maka, nyamuk ini menjadi pelengkap program 3M Plus milik pemerintah.
Ia berpesan kepada masyarakat untuk tidak khawatir terhadap keberadaan nyamuk wolbachia. “Kalau terlanjur tergigit, tidak apa-apa. Bakteri nyamuk tidak berpindah ke manusia.” (*)


