Tradisi Unik di Pulau Bawean; Melayarkan Tikus

Oleh: Lailatul Mukarromah

mepnews.id – Ada satu masalah yang selalu dihadapi petani di Pulau Bawean; Tikus. Hama tikus sering memakan padi dan gabah milik petani. Tak peduli masih berupa bulir di batang padi maupun yang sudah dipotong da disimpan di lumbung, tikus-tikus sering menyerangnya.

Sudah berbagai cara dilakukan para petani untuk mengatasi hama tersebut. Ada yang menggunakan perangkap, racun, memburu tikus di lubang-lubang sarang yang ada di sekitar pematang sawah, hingga cara-cara lainnya.

Di 30 desa di Pulau Bawean, cara mengatasi hama tikus relatif sama. Namun, ada juga yang mempunyai cara dengan keunikan tersendiri dalam mengatasi hama tikus. Salah satunya di Desa Pekalongan, yang berada di wilayah Kecamatan Tambak di belahan utara Pulau Bawean.

Desa Pekalongan tergolong terluas wilayahnya di Kecamatan Tambak. Bentuk geografisnya terdiri atas hamparan tanah sawah luas, sedikit rawa, perbukitan dan pantai. Masyarakatnya umumnya bekerja sebagai petani, serta ada juga yang jadi nelayan, PNS, peternak, buruh kasar dan lainnya. Karena sawah di desa ini lebih luas dibandingkan di desa-desa lainnya, maka bertani menjadi andalan mata pencaharian masyarakat Desa Pekalongan.

Sawah-sawah di sini juga tak luput dari serangan hama tikus. Nah, petani di Pekalongan punya kreatifitas unik. Namanya ‘malajere tekos’, alias ‘melayarkan tikus.’

Sebelum musim tanam tiba, masyarakat petani, kepala desa, para kepala dusun, serta para kiai dan tokoh berembuk bersama guna bersepakat untuk menangkap beberapa ekor tikus yang berkeliaran di pematang sawah. Tikus-tikus ini akan dilayarkan diiringi acara ritual, pencak silat dan tasyakuran (selamatan ala rakyat).

Setelah menentukan tanggal dan hari acara malajere tekos, masyarakat berbondong-bondong mendatangi Balai Desa membawa tikus yang telah dimasukkan di dalam kerengkeng kecil.

Kerangkeng isi tikus itu lalu diletakkan di dalam kelotok dengan ukuran sekitar 1 meter. Kapal kelotok ini seperti prototipe dari kelotok sebenarnya. Masing-masing kelotok kecil ini dicat dengan variasi warna bagus, dan dipasangkan layar. Makanan juga disiapkan untuk melayarkan tikus dalam kerangkeng masing-asing.

Setelah kelotok-kelotok bermuatan tikus terkumpul, selanjutnya Pak Kiai memimpin doa agar masyarakat petani di kampungnya selamat dari hama tikus, serta berharap petani bisa mendapatkan hasil panen padi maksimal.

Masyarakat menggotong kelotok isi tikus menuju pantai untuk dilayarkan.

Usai doa, masyarakat bersama-sama menuju Pantai Pemasaran untuk menceburkan kelotok-kelotok kecil ke laut. Kelotok di dorong ke tengah lalu hingga bergerak sendiri karena pengaruh hembusan angin pada layarnya.

Setelah kelotok-kelotok isi kerangkeng tikus sudah menjauhi pantai, acara dilanjutkan dengan hiburan rakyat. Biasanya ada pertandingan silat khas Bawean. Beberapa pasangan bertanding. Ada yang menang, ada yang kalah. Tapi tanpa hadiah.

Setelah hiburan silat, masyarakat dipersilahkan makan makanan yang telah disediakan panitia. Tujuannya, bersyukur atas doa yang telah dipanjatkan bersama, sekaligus melayarkan tikus Bersama-sama. Ini simbol mengusir atau memindahkan tikus dari desa Pekalongan ke tempat lain.

Biasanya, setelah pelaksanaan ritual ini, masyarakat merasakan pada tahun tersebut serangan hama tikus terhadap padi mereka jadi berkurang.

Acara ini dulu dilaksanakan setiap tahun, tetapi sekarang jarang dilakukan. Mungkin petani-petani tua sudah tidak ada, petani muda sudah enggan melakukannya, atau ada kendala lain?

Facebook Comments

Comments are closed.