Hidup Berdamai dengan Kesalahan Masa Lalu

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, aku telah melakukan kesalahan besar. Sekarang aku malu, aku sedih, aku stres jika mengingatnya,” begitu seorang teman menumpahkan uneg-unegnya dengan tubuh bergetar dan air mata mulai berderai.

“Kalau ingin menjalani hidupmu sekarang dan ke depan lebih tenang, kau bisa ambil langkah-langkah spiritual. Bertobat setobat-tobatnya, istighfar minta ampun pada Tuhan, berkomitmen untuk tidak mengulangi, dan segera melakukan banyak perbuatan baik untuk menyelimuti kesalahanmu itu.”

“Siap. Ada cara lain?”

“Ada. Secara psikologi, tapi tetap padukan dengan yang spiritual.”

…………

Pembaca yang budiman, kita tentu pernah sekali waktu jatuh ke kekeliruan. Kita melakukan sesuatu yang kemudian kita berfikir bahwa jika tidak melakukan itu maka keadaannya akan lebih baik di masa datang. Memikirkan hal-hal semacam itu kadang membuat kita merasa tidak nyaman.

Dalam psikologi, memikirkan tentang urutan kejadian dari sebelum tindakan, saat tindakan, dan usai tindakan, lalu memikirkan alternatif apa yang lebih baik atau yang lebih buruk, biasa disebut dengan counterfactual thinking. Biasanya, pemikiran ini menghasilkan semacam penyesalan. “Kenapa saya melakukan itu?” atau, “Kalau saya melakukan yang lain, hasilnya bisa lebih baik.”

Tidak ada salahnya melakukan perjalanan kembali ke masa lalu dan menggali ‘memori episodik pribadi’ (yaitu mengingat peristiwa masa lalu dalam hidup Anda). Masalahnya, kadang mengingat masa lalu itu bisa menjadi kontrafaktual.

Mengapa?

Karena terlalu memikirkan kesalahan bisa menyebabkan depresi dan menghasilkan potensi gangguan stres pascatrauma (terutama jika mengingat peristiwa traumatis). Ingatan kontrafaktual juga menunjukkan ciri-ciri neurotisme (kecenderungan khawatir dan cemas) dan mengurangi keramahan, kehangatan dan suasana baik. Bahkan, bisa menyebabkan sikap sinis terhadap kehidupan dan tidak mau lagi melihat sisi terang kehidupan.

Terus, bagaimana cara menghindari pemikiran kontrafaktual dan berdamai dengan kesalahan masa lalu?

Memori adalah bagian penting dari struktur kepribadian dan identitas Anda. Maka, bedakan antara memori yang membantu dan memori yang menghambat kesejahteraan. Lalu, kelola pikiran Anda agar bisa mengoptimalkan pikiran yang membantu dan meminimalisir pemikiran yang menghambat.

Cara spiritual di atas sangat bisa membantu mengurangi kenangan yang menghambat dan lebih menenangkan jiwa raga ke depan.

Lalu, syukuri apa yang terjadi. Jalani hidup di masa sekarang dan syukuri apa yang terjadi di sini dan sekarang. Ini dapat mengurangi rasa tak nyaman dari masa lalu.

Bayangkan masa depan. Bayangkan Anda menemukan cara untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Bayangkan Anda menemukan cara untuk menebus kesalahan.

Jika kita melibatkan Tuhan, maka kelak akan betul-betul muncul cara untuk memperbaiki kesalahan.

Jika bisa, maka segera perbaiki kesalahan itu. Jika tidak bisa, setidaknya jangan terbebani untuk memikirkannya.

Facebook Comments

Comments are closed.