Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, sepertinya istriku kumat lagi. Waktu melahirkan si sulung, ia mengalami postpartum depression. Sekarang, saat melahirkan anak kedua, ia menunjukkan gejala yang sama,” seorang teman mulai curhat.
“Ah, yang bener?” saya mencoba menggali keterangan.
“Iya, Mbak. Dua tahun lalu, psikiater di rumah sakit yang bilang begitu saat Dek Dinda dapat perawatan. Sekarang, saya sudah belajar dari pengalaman masa lalu. Saya rasa ia kembali kena postpartum depression. Padahal, kondisi kesehatannya, emosionalnya, sudah saya jaga agar stabil. Koq depresinya terulang, ya?”
…………
Pembaca yang budiman, saya tidak menuliskan seluruh obrolan saya dengan teman itu. Saya justru ingin berbagi sedikit tentang kondisi postpartum depression yang keluarga Anda, teman Anda, atau bahkan Anda sendiri bisa alami.
Postpartum depression adalah gangguan suasana hati serius yang dapat mempengaruhi ibu setelah melahirkan. Ini bukan sekadar perasaan sedih atau stres yang bisa dialami ibu-ibu setelah melahirkan. Ini kondisi klinis yang memerlukan perhatian medis.
Mengapa perlu mendapat bantuan profesional dari kalangan medis? Dalam kondisi berat, postpartum depression dapat menimbulkan kemurungan yang memicu pikiran tentang bunuh diri atau menyakiti diri sendiri atau menyakiti si bayi.
Ada juga beberapa ciri yang bisa menyertai postpartum depression. Antara lain; insomnia psikologis, secara mental merasa lemah atau kelelahan berlebihan, perubahan pola makan dengan makan berlebihan atau kehilangan nafsu makan, kehilangan kegairahan atas aktivitas yang sebelumnya dinikmati, muncul perasaan sedih, putus asa, atau kekosongan emosional berkepanjangan.
Postpartum depression membuat kondisi ibu maupun anak bisa terpengaruh secara negatif.
Karena mengalami kesulitan emosional serius, si ibu mengalami penurunan dalam kemampuan merawat dan berinteraksi dengan bayinya secara positif. Si ibu merasa kurang antusias merawat bayinya. Sampai-sampai, dalam kasus yang parah, postpartum depression dapat memicu pikiran atau tindakan bunuh diri atau tindakan yang merugikan bayi.
Di sisi lain, anak yang ibunya mengalami postpartum depression menanggung risiko lebih besar mengalami keterlambatan perkembangan sosial, emosional, dan kognitif. Bayi juga bisa mengalami gangguan hubungan emosional dengan ibunya. Dalam jangka panjang, kesehatan dan perkembangan fisik si bayi bisa terganggu.
Dengan kondisi demikian, postpartum depression jelas memengaruhi kualitas hidup ibu, perawatan dan pengasuhan bayi. Begitu juga, hubungan dengan suami. Untuk memperbaiki kondisi, diperlukan perawatan antara lain terapi psikologis, obat-obatan, dukungan sosial, atau kombinasi dari semua itu.
Menjawab pertanyaan teman saya, ada sejumlah faktor yang memicu postpartum depression. Antara lain; perubahan kondisi hormon dalam tubuh, ketidakstabilan emosional, hingga stres yang terkait dengan peran ibu baru.
Peneliti dari Fakultas Kedokteran, University of North Carolina, di Amerika Serikat, memimpin tim peneliti internasional, melakukan meta-analisis studi asosiasi genom (GWAS) terbesar yang pernah ada. Tujuannya untuk menyelidiki arsitektur genetik postpartum depression.
Hasilnya? Sekitar 14 persen variasi yang terlihat pada kasus postpartum depression dapat dikaitkan dengan faktor genetik umum. Skor ini melebihi faktor-faktor lain seperti lingkungan, trauma masa lalu, insomnia, sindrom ovarium polikistik, atau kondisi fisik lainnya. Kerentanan postpartum depression membawa komponen genetik signifikan.
“Kami mempelajari 1,1 juta wilayah genom manusia,” kata Jerry Guintivano PhD dari University of North Carolina yang memimpin penelitian ini, “Kami dapat melihat bahwa postpartum depression memiliki tanda genetik yang mirip dengan kondisi kejiwaan lainnya.”
Penelitian mengungkap, wilayah genetik yang melibatkan neuron GABAergik berhubungan dengan postpartum depression. Neuron GABAergik mengontrol pelepasan neurotransmitter GABA.
Maka, saya ingatkan teman saya untuk juga mengawasi putrinya saat kelak akan punya bayi. Siapa tahu putrinya menurunkan genetik istrinya yang berpotensi postpartum depression.


