Hati-hati, Jangan Sampai Toxic Parenting

mepnews.id – Kita sering mendengar kata toxic parenting. Bahkan mungkin kita malah mengalami kasus-kasus pengasuhan orang tua yang merugikan mental dan/atau fisik anak. 

Lilik Binti Mirnawati

Lilik Binti Mirnawati, dosen PGSD Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), menjelaskan toxic parenting bukan hanya tentang kekerasan fisik, namun juga berupa kekerasan verbal maupun psikologis. Yang terakhir ini sifatnya tidak terlihat mata sehingga sulit terdeteksi.

“Sikap orang tua yang selalu ingin dituruti, tidak pernah menghargai perasaan anak, dan tidak memberi anak hak berpendapat, termasuk juga dalam cakupan perilaku toxic parenting,” ungkap Mirna, lewat situs resmi um-surabaya.ac.id edisi 25 Oktober 2023

Mirna memperingatkan, toxic parenting dapat berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak khususnya pada kesehatan mentalnya. Orang tua yang toxic akan selalu menggali kekurangan  anak dan memaksa anak harus sesuai dengan keinginan orang tua.

“Anak yang dibesarkan dalam kondisi pengasuhan toksik seperti itu dapat tumbuh menjadi sosok yang sulit menghargai diri sendiri, sehingga nantinya anak menjadi seorang yang selalu menyalahkan diri sendiri,” imbuhnya.

Menurutnya, toxic parenting berdampak negatif bagi anak ke depannya. Kerap kali, luka bathin itu bisa muncul ketika anak mulai dewasa. Anak bisa mengalami stres berkepanjangan dan depresi, hingga menderita sakit mental maupun fisik.

Mirna menjelaskan, toxic parenting juga dapat menyebabkan terganggunya kepribadian dan membuat konsep diri anak menjadi berantakan. Juga berdampak pada relasi sosial anak menjadi tidak sehat kelak.

“Bahaya yang paling mengerikan dari toxic parenting adalah anak di masa datang bisa berperilaku sama-sama negatif dengan orang tuanya. Dengan kata lain, si anak kelak menjadi toxic parents selanjutnya bagi anak-anak mereka,”imbuhnya lagi.

Hal tersebut merupakan konsekuensi yang harus diterima dari toxic parenting. Anak akan menirukan hal yang sama dan membenarkan hal tersebut terjadi sebagai suatu kewajaran.

Padahal itu keliru dan tidak sehat.

 

Facebook Comments

Comments are closed.