Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, kenapa tulisan sampeyan bisa banyak?” tanya seorang teman.
Saya jawab, “Karena saya suka menulis.”
“Saya pingin bisa lancar menulis. Tapi, sudah banyak kata-kata di otak, susah untuk mengalirkannya ke jari-jari dan laptop. Nggak bisa tumpah begitu saja,” dia curhat.
“Oh, itu bukan masalahmu saja. Banyak orang bisa mengalaminya. Saya juga pernah. Begitu juga orang yang tak biasa menulis.”
“Bagaimana cara mengatasinya?”
“Gampang! Banyak-banyak berlatih menulis. Lihat peristiwa menarik, catet. Baca berita penting, catet. Teman melontakan ide bagus, catet. Ada apa-apa, catet. Latihan ini punya dua tujuan. Melatih memori otak dan membiasakan jari menulis. Kalau sudah terlatih, nanti otak akan mudah mengalirkan memori lewat jari.”
“Terus, kalau sudah banyak tabungan ide di otak tapi tetap nggak mau keluar, bagaimana solusinya?”
“Mungkin dengan aktivasi otak kecil.”
“Lho, bukankah otak kecil itu untuk keseimbangan, koordinasi fungsi motorik dan pergerakan cairan?” dia menyanggah.
“Betul. Tapi, semakin banyak penelitian yang membuktikan otak kecil juga terlibat dalam pemrosesan bahasa. Pemrosesan bahasa bukan hanya di otak besar.”
“Baiklah,” kata ia. “Coba jelaskan lebih lanjut.”
“Ketika aliran kata-kata dari pikiran ke jari atau laptop kehilangan kelancarannya, orang mengalami kehilangan kefasihan verbal yang bersifat sementara. Ini disebut ‘writer’s block.’ Karena ada blok yang membuntu aliran info di otak, orang jadi seolah-olah susah menulis.”
“Lalu, apa peran otak kecil?”
“Stimulasi otak kecil bisa membantu otak besar otomatis memikirkan kata-kata yang tepat dalam rantai asosiatif. Maka, mengaktifkan otak kecil dapat membantu kita membongkar writer’s block terutama ketika otak besar kita sedang terlalu banyak berpikir.”
“Terus, bagaimana cara mengaktifkan otak kiri?”
“Kan, tadi kamu bilang tugas otak kecil itu salah satunya untuk koordinasi fungsi motorik. Ya lakukan saja itu. Ketika sedang duduk, berfikir keras untuk menulis, tapi tak juga keluar tulisan di laptop lewat ketikan jemari, lakukan saja aktivitas motorik. Misalnya, segera bangkit dari duduk, gerakkan tubuh misalnya dengan bersepeda, jogging santai, atau memangkas daun-daun di pekarangan rumah, atau gerak tubuh yang lain. Ketika tubuh bergerak, otomatis otak kecil lebih aktif. Nah, aktivitas otak kecil ini nantinya bisa merangsang otak besar untuk kembali bekerja. Writer’s block tertembus. Nulis jadi lebih lancar.”
“Oh, begitu.”
“Mau tahu bukti ilmiah peran otak kecil dalam pemrosesn bahasa?”
“Mau..mau..”
“Saat bagian tertentu otak kecil rusak, orang bisa mengalami afasia. Ia kesulitan mengekspresikan diri dengan kata-kata. Stimulasi ledakan theta pada area Crus I/II di belahan otak kecil kanan bisa menjadi strategi potensial meningkatkan fungsi bahasa pada penderita afasia kronis pasca stroke. Dari sini, penelitian tentang wilayah Crus I dan Crus II di otak kecil mengungkap sirkuit serebro-serebelar yang memungkinkan otak besar dan otak kecil bekerja sama mengoptimalkan fungsi seluruh otak selama proses kognitif tingkat tinggi termasuk dalam penggunaan bahasa. Nah, daerah Crus I/II di posterolateral otak kecil bisa membentuk sirkuit timbal balik dengan pusat bahasa di korteks serebral otak besar.”


