Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Nyanyi dulu, yuk!
Anak jalanan kumbang metropolitan
Selalu ramai dalam kesepian
Anak jalanan korban kemunafikan
Selalu kesepian di keramaian
Itu lagu jadul yang pernah dinyanyikan almarhum Chrisye. Lagu itu mengisahkan kegelisahan anak-anak kota besar. Meski berlimpah kekayaan, mereka tidak mendapatkan kebutuhan mental. Akhirnya, semua dilampiaskan ke jalanan.
Sekarang, bukan hanya anak-anak jalanan yang merasa kesepian. Bisa saja saya, Anda, atau siapa saja merasa kesepian dalam satu-dua episode kehidupan. Tentu, sesekali kesepian itu oke saja. Yang tidak enak itu rasa kesepian yang berlebihan. Bisa menimbulkan masalah kesehatan mental, penurunan kualitas hidup, penurunan kesehatan fisik, isolasi sosial, hingga keinginan bunuh diri.
Kesepian itu tidak sama dengan kesendirian atau isolasi diri. Menurut psikolog Gabriella Silva dari South Florida University (Amerika Serikat), orang sering mencari—dan benar-benar menikmati—waktu sendirian. Ini bisa didapatkan dengan isolasi diri alias memutus hubungan sementara dengan berbagai pihak. Kesendirian bisa memberi orang kelonggaran untuk melepas penat dan menghilangkan stres, atau memberikan kesempatan untuk mengejar kepentingan pribadi, seperti menulis atau melukis, yang hanya bisa dilakukan sendiri.
Di sisi lain, orang bisa merasa kesepian meski telah berinteraksi dengan orang lain sepanjang hari. Orang bisa merasa kesepian meski di antara penonton dalam stadion sepakbola. Rasa kesepian ini terutama berlaku jika interaksinya tidak bermakna, bersifat negatif atau menimbulkan stres. Kesepian bukan hanya tentang kurangnya interaksi antarmanusia, tapi lebih tentang kualitas interaksinya.
Nah, karena kesepian adalah perasaan yang berfluktuasi seiring berjalannya waktu, Gabriella Silva dan para peneliti mempertanyakan efek jangka panjang dari interaksi sosial yang positif dan yang negatif. Saat responden menjalani sebagian besar interaksi positif, mereka melaporkan tingkat kesepian yang rendah. Sebaliknya, jika interaksi negatif, mereka melaporkan kesepian.
Namun, para peneliti juga mengamati tingkat kesepian pada hari berikutnya untuk melihat apakah hari-hari baik atau buruk tersebut memiliki efek yang bertahan lama. Ternyata, jawaban atas pertanyaan ini bergantung pada kualitas interaksinya.
Pada hari yang didominasi interaksi sosial positif, tingkat kesepian yang dirasakan orang-orang jadi rendah. Namun, perasaan keterhubungan ini tidak bertahan hingga hari berikutnya. Seolah-olah, setiap malam pengukur kesepian disetel ulang. Artinya, hari yang baik tidak selalu memberikan perlindungan apa pun terhadap pengalaman negatif di hari berikutnya.
Ketika seseorang mengalami hari yang buruk dan merasakan tingkat kesepian tinggi, perasaan tidak terhubung ini akan tetap ada hingga hari berikutnya, bahkan ketika kualitas interaksi sosial pada hari itu lebih baik. Di sini ada faktor ‘bias negatif’, yaitu interaksi sosial yang negatif jauh lebih banyak daripada interaksi positif. Ini cukup umum terjadi dalam hubungan.
Misalnya, boss menyebutkan sejumlah area di mana kinerja Anda cukup memuaskan, namun mungkin kemudian ia menyebutkan hanya satu area yang perlu ditingkatkan. Setelah itu, yang terpikirkan oleh Anda justru hanya satu komentar negatif itu.
Inilah sebabnya mengapa konselor merekomendasikan orang-orang untuk memberikan setidaknya lima komentar positif kepada pasangannya untuk setiap satu komentar negatif agar bisa mencapai keseimbangan. Dalam situasi sosial, dampak negatifnya juga jauh lebih besar daripada dampak positifnya.
Para peneliti menyimpulkan, cara terbaik untuk menghilangkan perasaan kesepian adalah dengan menghindari interaksi sosial yang negatif sebanyak mungkin. Tidak perlu banyak menerima dan bertukar dukungan dengan orang lain untuk menghilangkan kesepian selama sehari. Namun tidak perlu banyak penolakan dan interaksi yang membuat stres tidak hanya merusak hari kita tetapi juga hari berikutnya.


