Tetris Effects Akibat Perilaku Berulang-Ulang

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada seorang teman, yang bukan pelaut, baru pulang dari ekspedisi pulau-pulau terpencil menggunakan kapal tradisional kecil sekitar dua bulan. Setelah mendarat, dan bahkan sampai beberapa hari beraktivitas di rumah atau tempat kerja, ia mengaku masih merasakan sensasi goyangan gelombang laut di kapalnya. Bahkan, saat berdiri di lantai yang datar, kaki atau tubuhnya sesekali oleng seperti sedang menyeimbangan diri dari goyangan gelombang. Mirip cara berjalan Jack Sparrow si Bajak Laut dari Karibia.

Gejala ini biasa disebut sea legs. Ini bisa terjadi karena perubahan persepsi sensorik goyangan kapal di laut ke kondisi stabil di darat. Dalam kondisi goyang, maka tubuh dan otak seseorang berusaha beradaptasi dengan pergerakan kapal. Semakin lama di atas kapal, seseorang mulai terbiasa karena pengalaman yang berulang. Ketika kembali ke darat, kondisi yang sudah terbiasa di laut ini akhirnya juga terbawa.

Pembaca yang budiman, kondisi yang biasa dialami orang darat di laut dan kembali ke darat ini mirip dengan gejala ‘Tetris Effects.’ Bedanya, sea legs dihubungkan dengan pengalaman berulang di laut dan ‘Tetris Effects’ dihubungkan dengan game bernama Tetris yang populer pada awal 1990-an. Tetris berupa sekumpulan bujursangkar yang bisa diputar-putar agar posisi jatuhnya pas di ruang yang disediakan di bawah.

Sebagaimana sea legs, orang juga bisa dengan mudah terjebak ke dalam kondisi Tetris Effect jika mengalami persepsi, pemikiran, atau pengalaman terkait dengan aktivitas yang berulang-ulang, bahkan setelah mereka berhenti melakukannya. Ketika bermain Tetris atau aktivitas serupa yang memerlukan pemikiran visual dan spasial intensif, otak lama-lama menjadi terbiasa dengan pola-pola, bentuk-bentuk, atau gerakan yang terlibat dalam permainan. Kebiasaan itu terbawa bahkan setelah berhenti bermain.

Orang mungkin berulang kali memikirkan atau memvisualisasikan tugas atau aktivitas yang sering dia lakukan. Misalnya, jika bekerja dengan komputer sepanjang hari, ia mungkin terus memikirkan atau ‘melihat’ layar komputer meskipun sudah berhenti bekerja. Orang jadi lebih peka terhadap pola-pola visual di sekitar, lebih mudah melihat pola-pola simetris atau bentuk-bentuk geometris dalam lingkungan, saat ia sedang tidur. Bahkan, ia sesekali memimpikan aktivitas berulang itu.

Tetris Effect tidak dianggap sebagai gangguan mental serius. Kondisi ini umumnya bersifat sementara dan tidak berdampak negatif signifikan. Bahkan, ada yang menyebut Tetris Effect itu manifestasi dari kemampuan otak beradaptasi dengan tugas-tugas berulang. Yang jadi masalah adalah saat orang sangat terobsesi dengan aktivitas berulang hingga menyebabkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dia tidak dapat berkonsentrasi pada tugas penting karena terlalu terpaku pada pemikiran atau pengalaman terkait aktivitas tertentu. Atau, jika Tetris Effect menyebabkan gangguan tidur sehingga berdampak pada peningkatan stres, kecemasan, dan masalah kesehatan mental jangka panjang.

Jika Tetris Effect mulai menimbulkan masalah, maka segera ambil tindakan. Berhenti atau istirahat dari aktivitas yang menyebabkan Tetris Effect. Cobalah lakukan variasi dalam aktivitas sehari-hari sehingga mengurangi pola pikiran berulang. Pastikan mendapatkan tidur, makan, dan relaksasi yang sehat. Batasi waktu aktivitas yang memicu Tetris Effect. Jaga keseimbangan antara bekerja, bermain, beristirahat, dan tidur. Cobalah menggeser fokus pikiran dari pemikiran berulang yang negatif menuju pemikiran yang lebih positif dan konstruktif.

Facebook Comments

Comments are closed.