mepnews.id – Ada kabar menghebohkan dari kawasan Gunungkidul tentang kasus antraks pada manusia. Diduga, manusia tertular penyakit ini akibat sengaja menggali kubur sapi yang baru mati karena antraks lalu memakannya. Tak pelak, Dr Nusdianto Triakoso MP drh, pakar kedokteran hewan Universitas Airlangga (Unair), menyayangkan kejadian itu.

Dr Nusdianto Triakoso
“Antraks itu penyakit yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis. Bila terpapar udara, bakteri ini bisa membentuk spora yang resisten suhu dan bahan kimia sehingga dapat hidup hingga puluhan tahun,” kata Dr Nus.
Itulah sebabnya, tubuh hewan yang teridentifikasi antraks tidak boleh dibelah meskipun untuk tujuan pemeriksaan.
Ini berbeda dengan daging hewan ternak yang mengalami Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) yang masih aman dikonsumsi dengan prosedur masak tertentu.
“Hewan yang kena antraks sama sekali tidak boleh dibelah apalagi dikonsumsi. Bakteri antraks bisa menyerang dan merusak organ-organ dalam, terutama limpa,” kata Wakil Direktur Pelayanan Medis, Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga (RSHPUA) itu.
Hewan berdarah panas dapat terinfeksi antraks melalui makanan atau minuman yang tercemar spora. Penyakit ini bersifat zoonosis, yaitu dapat menular dari hewan ke manusia. Namun, penularan tidak terjadi dari hewan ke hewan atau manusia ke manusia.
Terdapat tiga cara penularan antraks ke manusia. Melalui saluran pernapasan, pencernaan, dan melalui luka terbuka di kulit. Ketiganya memiliki tingkat keparahan dan gejala yang berbeda. Yang sering terjadi adalah di kulit, tapi ini biasanya tidak bahaya.
Jika spora terhirup, bisa terjadi infeksi yang menyerang paru-paru. Bila spora masuk melalui sistem pencernaan, penderita mengalami kerusakan organ, utamanya limpa dan peredaran darah, seperti halnya hewan ternak yang terinfeksi antraks.
Penyakit ini fatal dan menyebabkan kematian pada hewan dan manusia. Meski demikian, penyakit ini dapat diobati oleh petugas terkait bila gejalanya ditemukan lebih awal. (*)


