Dulu Jual Bunga Keliling, Kini Pimpin Sekolah Favorit

mepnews.id – Salah satu sekolah favorit di Surabaya adalah SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Pucang. Jika beberapa saat lalu media sosial dihebohkan dengan viralnya rombongan anak-anak study tour ke Jepang, itu adalah siswa SD Mudipat peserta Internasional Student Exchange 2023. Selain kualitasnya bagus, fasilitas SD Mudipat juga serba ada. Salah satu pioner kemajuannya adalah Edy Susanto sang Kepala Sekolah.

Edy lahir di pelosok Desa Karangsemi, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Sebagai anak ke-4 dari 6 bersaudara, Edy kecil sudah terbiasa mandiri. Saat masih di SD hingga SMP, ia menggembala kambing. “Saya mulai menggembala sejak kelas 3 SD. Orang tua melatih kemandirian. Saat kemarau, saya harus mengembala ke luar desa,” kenang ia, lewat situs resmi um-surabaya.ac.id.

Kemudian, Edy belajar di SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk. Sebagai siswa, ia aktif di kegiatan ekstrakuliker. Pada saat yang sama, ia makin mandiri mencari penghasilan. Ia tidak berharap lebih dari keluarga lantaran ibunya hanya penjual nasi pecel dan ayahnya pensiun.

Lulus SMA, Edy berpikiran merantau ke Jakarta namun tak diizinkan ibunya. Ia memutuskan ke Surabaya, menumpang di rumah saudara yang memiliki toko di Wonokromo. Melihat aktivitas toko yang padat, Edy memutuskan mencari pekerjaan lain. “Setelah itu, saya jualan bunga sendiri. Saya menjajakan bungan naik sepeda ontel dari pesanan satu ke pesanan lain. Dagangan bunga saya ambil dari Wadung Asri,” kata Edy.

Tak hanya berjualan bunga, Edy juga kerja serabutan agar tabungannnya terpenuhi untuk bisa kuliah. Setelah berhasil jualan kain, tabungnnya terpenuhi untuk digunakan mendaftar kuliah.

Ikut ujian masuk PTN, ia gagal. Maka, pada 1990, Edy mendaftar ke Universitas Muhammadiyah Surabaya jurusan Bahasa Inggris. Sembari kuliah, Edy tetap jualan bunga, bekerja memasang gip, dan lain-lain. Namun, meski sibuk kerja dan kuliah, ia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris.

Sebelum lulus kuliah, Edy mendapat pekerjaan di SMA 10 Nopember. Karena rajin, jam mengajarnya terus bertambah. Lulus dari UM Surabaya pada 1995, pekerjaan Edy bertambah. Selain menjadi guru, ia memberikan les privat sore hari sebagai tambahan. Edy juga sempat mengajar di SMP Wachid Hasyim. Pada 1999 Edy, juga bekerja di LSM T2KP Proyek Pengentasan Kemiskinan di perkotaan sebagai fasilitator sampai 2001.

Tawaran mengajar di SD Mudipat padanya datang pada 2003. Di Mudipat, Edy mengajar Bahasa Inggris dengan gaji pertama Rp 250 ribu. Edy aktif dengan kegiatan-kegiatan sekolah. Edy menjadi pemrakarsa berdirinya ekstrakulikuler band, karena ia memiliki kemampuan bermusik. Pada tahun 2006, ia mendapat penghargaan sebagai pemecah rekor band termuda di tingkat SD.

Pada 2010, Edy diangkat menjadi Wakil Kepala Sekolah. Pada 2014-2018, ia menjadi Kepala Sekolah. Saat menjabat, ia menghidupkan literasi sekolah. Berkat itu, pada tahun 2018 ia mendapat penghargaan juara 1 literasi terbaik tingkat Kota Surabaya. Pada 2017, Edy mendapatkan penghargaan sebagai Kepala Sekolah terbaik se-Surabaya. Di tahun itu pula ia mendapat penghargaan lomba Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara individu yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di tahun 2016 ia mendapatkan juara 2 lomba Budaya Mutu Tingkat Nasional yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan.

Terkait perubahanya dari zero-to-hero itu, Edy menekankan “Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti mendapatkan. Yang selalu memotivasi saya, man jadda wajada.”

Facebook Comments

Comments are closed.