Oleh: M. Yazid Mar’i*
mepnews.id – Kewajiban puasa di bulan Ramadhan kepada mukminin tak lain adalah proses pendakian menuju taqwa ‘kesempurnaan hidup’.
Ini cukup beralasan. Karena puasa hakekatnya bukan sekadar meninggalkan makan minum serta sejumlah kebutuhan jasmani, melainkan juga proses melatih jiwa dan ruhani manusia kepada ridha Allah SWT.
Manusia yang berpuasa dilatih untuk meninggalkan segala hal yang dapat mengotori jiwa dari sisi niat, ucapan, dan prilaku. Di sinalah maka Allah menyatakan dalam hasits kudsi: “Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan ucapan dan perilaku bohong, maka Aku (Allah) tidak membutuhkan puasa seseorang, meski ia telah meninggalkan makan dan minum.”
Al-Qur’an memaknai taqwa dalam berbagai perspektif; khauf (takut), thoat wal ibadah (ketaatan beribadah), dan tazkiyatul qolbi min adz zdunub (membersihkan hati dari dosa).
Perspektif Al Qur’an ini mengandung beberapa konsekuensi.
Pertama, seorang yang bertaqwa akan senantiasa memiliki rasa takut akan murka Allah, siksaan Allah, sehingga ia takut melakukan segala bentuk kemaksiatan dan berupaya maksimal untuk melakukan segala bentuk kebaikan dan kemanfaatan hidup untuk agama, umat, bangsa dan negara, sebagai apapun, di tempat manapun, dan dalam kondisi bagaimanapun. Dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi: “Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, dan berahlaqlah dengan sesama manusia dengan ahlaq yang baik.”
Kedua, seorang yang bertaqwa senantiasa melakukan ketaatan dengan beribadah serta mengabdi hanya kepada Allah SWT. Dalam makna lain, beribadah sebagaimana dituntunkan Nabi SAW tanpa menambah dan mengurangi, serta dilakukan dengan khusyuk (sungguh-sungguh berharap ridha Allah SWT). Ini sebagaimana makna ibadah menurut Ali Ibn Muhammah al Jurjani dalam kitab Atta’rifat: Al ibadah huwa taqorruban illahi, imtistali awamiri wa ijtinabi an nawahi, waliannati Bima addzina biji syari. Artinya; ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan perintahNya dan menjahui laranganNya, dan beramal sesuai yang ditentukan syari’at.
Ketiga; orang bertaqwa akan senantiasa menjaga hati dari sifat hina dan dosa, menjahui sifat sombong, ujub, dengki, kiamat, dan segala sifat buruk lainnya, dan mengisinya dengan sifat baik, rendah hati, qonaah, jujur, amanah, dan segala sifat baik lainnya. Ia yakin hati adalah pangkal utama lahirnya perilaku pada dirinya. Sebagaimana dijelaskan hadits yang diriwayatkan Bukhori-Muslim yang artinya: “Ketahuilah bahwa di dalam jasad ini terdapat segumpal daging. Jika dia (segumpal) baik maka baik lah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruk lah seluruh tubuh. Ketahuilah, bahwa dia adalah hati.“
Dengan demikian, seseorang yang telah berpuasa Ramadhan satu bulan penuh, sebagai orang yang mendapatkan kemenangan, karena mampu mendaki puncak taqwa ‘minal ‘aidzin wal fal faizin‘ termasuk orang yang kembali dan menang. Ia kembali menjadi fitrah seperti saat dilahirkan, dan memenangkan peperangan melawan hawa nafsunya. Ia menjadi pribadi muslim dan mukmin yang dicintai Allah dan cintai manusia.
Ridallah.
* Penulis adalah Wakil Ketua PDM Bojonegoro bidang Dikdasmen dan Non Formal.


