Teknologi Berkembang, Perusahaan Perlu Penyesuaian

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Seorang teman, yang jadi salah satu manajer di perusahaan garment, curhat tentang lesunya bisnis yang dihadapinya beberapa saat belakangan. Ia bilang, perusahaan tempatnya bekerja masih setengah-setengah. Bukan garment model lama yang pakemnya sudah dikenal orang. Tapi juga bukan perusahaan garment moderen yang sudah mengadopsi teknologi terkini. Akibatnya, manajemen bingung bagaimana langkah selanjutnya.

……….

Pembaca yang budiman, kasus semacam ini dihadapi banyak sekali perusahaan.

Contoh klasik; Nokia menolak Android. Hasilnya, teknologi Android dipakai di semua smartphone, dan Nokia ketinggalan lalu punah. Kodak pernah menolak teknologi kamera digital. Kini, semua foto diambil dari kamera digital. Kodak kolaps. Dulu, untuk mengambil gambar dari udara, dibutuhkan setidaknya satu kamerawan membopong kamera besar yang naik helikopter. Kini, drone menggeser pekerjaan kamerawan sekaligus pilotnya.

Jika ada perusahaan yang tidak berbasis pada keunggulan historis, maka ada baiknya untuk segera beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Untuk kasus teman saya di atas, saya sarankan pilihan yang lebih masuk akal adalah perusahaan mengadopsi teknologi terbaru.

Misalnya, menerapkan teknologi Artificial Intelligent untuk membuat desain industri. Ada generative adversarial network yang bisa digunakan untuk membuat desain baru. Cara kerjanya; mempertandingkan dua jaringan neural. Salah satu jaringan neural membuat desain yang dipertimbangkan sebagai desain asli. Jaringan neural lainnya membuat variasi dari desain asli. Dengan menggunakan teknologi ini, perusahaan dapat menghasilkan desain baru dengan cepat dan secara otomatis.

Ada juga neural style transfer yang digunakan untuk menggabungkan dua gambar menjadi satu gambar baru. Teknologi ini dapat menciptakan desain baru dengan cara memadukan elemen-elemen desain berbeda. Dengan menggunakan teknologi ini, perusahaan dapat menciptakan desain baru dengan mudah dan cepat.

Tentu saja, meski dapat membantu membuat desain, teknologi AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran desainer manusia. Manusia masih memainkan peran penting dalam proses kreatif, antara lain saat menentukan warna dan tekstur yang tepat, serta mempertimbangkan kebutuhan dan preferensi pelanggan. Setidaknya, teknologi AI dapat digunakan membantu manusia mempercepat proses kreatif dan menghasilkan desain lebih inovatif dan efisien.

Selain itu, perubahan penggunaan teknologi bakal mempengaruhi kinerja karyawan. Saat perusahaan menerapkan teknologi AI atau Machine Learning untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi, tentu ada konsekuensi dengan karyawan. Jika karyawan tidak memiliki keterampilan mengoperasikan teknologi ini atau tidak terbiasa dengan teknologi ini, mereka mungkin kesulitan menggunakannya dengan efektif. Maka, perlu mempekerjakan orang baru yang paham teknologi atau mendidik karyawan lama agar akrab dengan teknologi.

Maka, tentu ada aspek positif dan negatif saat perusahaan mengambil langkah mengadopsi teknologi terbaru dan tercanggih. Positifnya, bisa meningkatkan efisiensi produksi, meningkatkan kualitas produk, meningkatkan personalisasi produk sesuai kebutuhan pelanggan, dan lain-lain.

Negatifnya, penggunaan teknologi AI  dapat mengurangi lapangan kerja. Dalam jangka panjang, teknologi AI dapat mengerjakan tugas-tugas yang biasa dilakukan manusia. Selain itu, penerapan teknologi kadang memerlukan investasi besar dalam bentuk perangkat keras dan perangkat lunak. Teknologi ini juga memerlukan SDM dengan keterampilan dan pengetahuan yang tinggi dalam bidang teknologi.

 

Facebook Comments

Comments are closed.