Balada Berpuasa di ‘Kota Gereja’

mepnews.id – Adelaide adalah kota pantai kosmopolitan yang menjadi pusat pemerintahan negara bagian South Australia di Australia. Di sini, ada 529 bangunan gereja antara lain, Holy Trinity Church, St Peter’s Cathedral, Brougham Place Uniting Church, St Mary’s Catholic Church, St Laurence’s Church, Christ Church, Scot’s Uniting Church, dan Francis Xavier Cathedral.

Namun, siapa saja bisa berkehidupan di kota berjuluk ‘City of Churches’ alias Kota Gereja. Salah satunya, Wildan Zarief alumni Universitas Muhammadiyah Malang yang menempuh pendidikan magister di University of Adelaide. Pada bulan Ramadhan ini, ia juga tetap menjalankan ibadah bagaimana pun kondisinya.

Tentu, pemuda kelahiran Malang ini merindukan tradisi membangunkan sahur, berburu takjil, hingga menikmati suara adzan magrib yang saling bersahutan di Indonesia. Suasana semacam itu tidak dapat dirasakan di Adelaide.

Menurut Wildan, tidak ada beda suasana antara Ramadhan dan hari-hari biasa di Adelaide. “Penduduk kota ini mayoritas Kristen. Teman-teman satu tempat tinggal juga non-muslim semua. Jadi, saat sahur maupun berbuka, saya biasa sendirian,” ungkap Wildan, dikutip situs resmi umm.ac.id.

Si sulung dari dua bersaudara itu lalu bercerita tentang menunaikan ibadah sholat tarawih. Ia lebih memilih sholat sendiri. Bukan hanya lokasi masjid yang jauh dari tempat tinggalnya, tapi juga transportasi umum tidak beroperasi saat malam.

Di kota ini ada Adelaide Mosque yang didirikan tahun 1888–89 sehingga menjadi masjid tertua yang masih ada Australia. Tempat-tempat sholat lain juga ada di Islamic Dawah Centre of South Australia, Mahmood Mosque, Gilles Plains Mosque dan Islamic Society of South Australia Inc.

Kata Wildan, “Alhamdulillah, puasa tahun ini masuk musim gugur. Di Adelaide, puasa antara 06.00 sampai 19.00. Lamanya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, 12-13 jam. Beda lagi ceritanya kalau puasanya di musim panas. Puasanya 16 jam dan waktu bukanya pukul 22.00.”

Walau puasa tahun ini di musim gugur namun tetap menguras tenaganya. Hal itu karena jadwal Wildan yang padat saat masuk tahun pertama perkuliahan.

“Rasa sepi saya saat Ramadhan di sini sedikit terobati dengan adanya komunitas muslim di kampus. Ada banyak kegiatan menarik. Ada bagi-bagi takjil maupun kajian sebelum shalat,” terangnya.

Cerita unik juga pernah dialami Wildan. Karena banyak teman kuliahnya yang tidak tahu tentang puasa, ia sering ditawari makanan ataupun jajanan. Bahkan, mahasiswa pernah mengadakan pesta dan barbeque siang hari sehingga mengundang nafsu makannya.

“Kalau dapat tawaran makan, biasanya saya tolak. Saya mengatakan sedang puasa. Kebanyakan mereka kaget dan balik bertanya mengenai puasa dan Islam. Nah, itu kemudian menjadi sarana dakwah tipis-tipis juga,” terangnya.

Memang, bagi Wildan, Ramadhan tahun ini memberikan nuansa sedih karena tidak mendapatkan kenikmatan berpuasa bersama keluarga. Namun, menurutnya, makna Ramadan paling utama adalah bagaimana bisa menjalin hubungan dengan Allah dan dengan manusia, yang muslim maupun non-muslim. Selain itu sebagai sarana memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. (zak/wil)

Facebook Comments

Comments are closed.