mepnews.id – Hungaria adalah negeri di Eropa Timur yang penduduk muslimnya bisa dihitung dengan jari. Budaya kulinernya tentu pada umumnya tidak Islami. Jika ada bahan makanan halal, cara mengolahnya mungkin tidak halal.
Nah, dalam kondisi seperti itu, seorang mahasiswi muslimah dari Indonesia berusaha menyesuaikan diri. Indah Febriana As’ari Putri, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mau tak mau harus mandiri saat Hungaria.
Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional ini menjalani pertukaran pelajar ke Universitas Szeged, Hungaria. Ia mengikuti program International Student Mobility Award (IISMA) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek), yang berlangsung September 2022 sampai Januari 2023.
Sebagai wanita yang pertama kali merantau di negeri orang, Indah harus cepat beradaptasi dengan budaya serta lingkungan baru. Hidup jauh dari orang tua sempat membuatnya tidak nyaman selama dua minggu pertama menjalani program pertukaran pelajar itu. Ia bahkan hanya makan mie instan, nasi, serta telur.
“Penganut Islam di sini sangat minoritas. Memang ada beberapa restoran yang menjual makanan halal seperti daging ayam, ikan, dan lain sebagainya. Namun, di dalam bahan masakan masih ada minyak babi. Oleh karena itu, satu-satunya alternatif adalah saya harus memasak sendiri. Masalahnya, saya tidak pernah memasak. Jadi, awalnya saya hanya makan mie instan. Setelah itu, saya mulai belajar memasak menggunakan resep dari internet,” ujarnya dikutip situs resmi umm.ac.id.
Selain susah mengakses makanan halal, Indah juga kesulitan akses ke tempat ibadah dan masjid yang sangat minim. Universitas Szeged memang menyediakan musala bagi mahasiswa, namun hanya dibuka pada waktu-waktu ibadah.
“Maka, saya harus menyesuaikan jadwal kuliah dengan jadwal salat lima waktu. Kadang, jika waktu salat telah lewat dan musala sudah tutup, saya salat di tangga darurat. Saya juga kerap salat di ruang ganti yang ada di mall,” ungkap mahasiswa asal Malang tersebut.
Meski adaptasinya sangat berat, Indah mengatakan pengalaman menjalani pertukaran pelajar ke Szeged memberinya pengalaman berharga. Selain mengajarinya mandiri, program ini juga membuatnya jadi lebih tahu kebudayaan serta adat istiadat dari negara lain.
“Salah satu hal yang membuat saya takjub di Hungaria adalah Gereja Candlemas. Bangunan ini awalnya masjid di zaman Kesultanan Utsmaniyah, tapi dialihfungsikan jadi gereja pada tahun 1702. Ornamen luarnya masih tampak seperti masjid dengan atap kubahnya. Tapi, bagian dalamnya bercorak gereja Katolik yang kental,” kata mahasiswa angkatan 2020 itu. (syi/wil)


