Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Bund, anak saya jarang bergaul dengan anak-anak lain. Lingkup pergaulannya terbatas pada anak yang itu-itu juga,” kata seorang tamu di kantor saya.
“Kira-kira anaknya kurang percaya diri, pemalu, atau introvert, atau lainnya,” tanya saya.
“Emmm, sepertinya introvert. Dia nggak malu-malu untuk melakukan sesuatu.”
“Bersyukurlah atas segala kondisi yang dialami dan dijalani si anak,” jawab saya. “Lebih bersyukurlah jika dia benar introvert.”
“Loh, bukankah lebih keren extrovert yang lebih gaul?”
Para pembaca yang budiman, masing-masing anak mengalami perkembangan yang berbeda. Setiap perkembangan punya keunggulan dan kelemahan masing-masing. Tugas orang tua adalah membimbing dan memfasilitasi keunggulan anak demi masa depannya.
Anak introvert pun begitu. Jangan kira, jika anak menarik diri dari pergaulan, maka sebagian besar kesenangan dan peluang bakal terkunci bagi dia. Meski sedikit berinteraksi dengan anak/orang lain, ia tetap berpotensi menjadi sukses di kemudian hari.
Mengapa?
Ia berpikir lebih efisien. Saat menghindari keramiaan, anak introvert sejatinya menghindarkan otaknya dari distraksi. Itu membuat otaknya bisa lebih banyak dan lebih fokus berfikir.
Ia selektif memilih teman. Anak introvert sadar betul tidak akan bisa menangani terlalu banyak orang dalam satu waktu. Ia sadar tidak semua anak/orang cocok menjadi teman, bahkan ada yang toxic. Maka, ia lebih memaksimalkan dua atau tiga anak/orang sebagai teman dekat sejati. Kelak, saat dewasa, ia memastikan hanya orang-orang terbaik yang bisa berada di sisinya untuk menjalankan bisnis atau menjalani kehidupan.
Ia pandai mendengarkan sekitar. Anak introvert sering diejek karena pendiam. Tapi, diam itu memiliki keuntungan tersendiri, yakni ia bisa jadi pendengar yang hebat! Di era yang tampaknya terlalu mudah mengatakan sesuatu dan mudah tidak didengar ini, bisa mendengarkan adalah keterampilan penting yang dapat membantu ia maju. Mendengarkan secara aktif dapat membantu ia mendapatkan hanya informasi penting yang ia butuhkan.
Ia pandai mengawasi lingkungan. Anak introvert pandai memperhatikan apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Saat menyendiri, pikirannya sama sekali tidak menganggur. Pikirannya menerima, memproses, dan menyimpan semua informasi dari lingkungan. Ia hebat dalam membaca ruang, membaca pikiran orang lain, dan membaca hal-hal umum.
Ia mudah bersimpati. Dalam jagad yang sangat individualis di mana kebanyakan orang mementingkan diri sendiri, anak introvert sering kali mudah memberi perhatian pada anak/orang lain meski tidak terlalu dikenalnya. Dalam diam, anak introvert cepat mengamati kondisi anak/orang lain dan segera memberikan dukungan langsung maupun tak langsung.
Ia kadang sensitif. Anak introvert memang tidak mudah terbuka. Tapi, justru kondisi itu memberi ia banyak waktu untuk menyelaraskan diri dengan emosinya sendiri. Bisa memahami keadaan emosi diri membantu ia mendapatkan wawasan tentang keadaan emosi anak/orang lain. Tak heran ia bisa meningkatkan hubungan interpersonal secara keseluruhan jika ia mau. Maka, sifat ini dapat membantunya memahami sesuatu yang mungkin tidak disadari orang lain.
Ia kreatif. Meski tampak melamun, otak anak introvert biasanya mengembangakan skenario imajiner yang rumit tentang sesuatu. Hasilnya adalah kreativitas. Anak introvert sering menemukan cara menyelesaikan sesuatu dengan lebih efisien dan konsisten. Cara kreatif. Bisa menarik berbagai sumber inspirasi lalu menggabungkannya menjadi sesuatu yang baru.
Ia unik. Karena introvert, ia tidak mudah terpengaruh oleh tren. Anak introvert umumnya memilih hanya apa yang dia suka. Upaya memburu hal unik yang disuka ini membuat ia menonjol sebagai individu yang berbeda dari kebanyakan anak lainnya.
Ia bisa bertindak independen. Anak introvert tidak membutuhkan dorongan sosial atau tekanan orang lain untuk bertindak. Ia cenderung bertindak mandiri dalam banyak hal. Ia bisa bekerja tanpa pengawasan. Ia tak perlu menunggu persetujuan orang lain. Anak introvert menguasai keahlian tertentu dan tidak perlu petunjuk orang lain tentang cara melakukan hal itu.
Tentu masih banyak hal positif yang bisa dinikmati anak introvert. Yang perlu dilakukan orang tua adalah membantu anak untuk menemukan lalu mengembangkannya menjadi salah satu keunggulan dalam hidup.


