Oleh: Moh. Ghofur Hasbulloh
mepnews.id – Bambu sangat mudah ditemui di Bondowoso, Jawa Timur. Banyak ditemukan di daerah-daerah pegunungan. Di hampir tiap desa, ada rimbunan pohon bambu. Ukurannya bervariasi. Nama-namanya juga berbeda. Ada bambu kelis, bluweh, duri, toltol, bambu hitam, dan aneka ragam nama lainnya.
Karena mudah mendapatkan pohon yang tumbuh berkelompok ini, sebagian masyarakat di daerah memanfaatkannya sebagai pendulang ekonomi. Banyak kerajinan bambu yang menjadi pundi-pundi rupiah setiap harinya.
Berbagai kerajinan tangan kreatif rakyat kecil menjadikan bambu sebagai komoditi untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Produk-produk olahan bambu antara lain untuk jadi bernyet atau sak untuk wadah ikan.
Pernahkah Anda melihat ikan pindang di pasar? Kota Bondowoso, meski di kawasan pegunungan, memiliki pasar yang menampung berbagai ikan laut dari kabupaten tetangga, seperti dari Besuki, Jember, dan Banyuwangi. Ikan-ikan tersebut dikemas dalam wadah irisan bambu.
Ikan yang sudah diproses jadi pindang atau lainnya dikemas dalam wadah sesuai ukuran lalu dikirim ke pasar ikan. Di pasar, sudah menunggu pedagang-pedagang dari berbagai daerah. Samakin banyak penjual ikan, maka banyak pula wadah yang dibutuhkan. Nah, warga Bondowoso adalah seniman pengrajin wadah ikan.
Pengrajin wadah ikan banyak dijumpai di kecamatan-kecamatan Curahdami, Pakem, dan Wringin. Ada juga, dalam skala kecil, di Bataan, Kecamatan Tenggarang. Mayoritas pengrajin ada di Wringin dan Pakem.
Wadah itu, oleh masyarakat Bondowoso, dinamai bernyet. Orang Wringin meng-istilahkan sak. Dua nama tersebut hanya familiar di Bondowoso. Di luar Bondowoso, ada yang menamai reyeng atau lainnya.
Yang menekuni pembuatan bernyet kebanyakan ibu rumah tangga. Bapak-bapak umumnya membantu, terutama saat pembelahan bambu. Selebihnya, dikerjakan para ibu.
Untuk menghasilkan satu bernyet dibutuhkan ketekunan dan ketelatenan pengrajin. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Mulai dari pemotongan, pembelahan, pengiratan, hingga penganyaman.
Pembuatan bernyet mengguankan alat manual, seperti gergaji, golok, dan pisau. Tentu akan lebih cepat jika menggunakan piranti mesin. Namun, bagi yang terbiasa, alat manual tidak menjadi kendala dan juga tidak membuat mereka jenuh membuat sebanyak-banyaknya.
Selain namanya, ukuran bernyet bervariasi berdasarkan ikan yang akan menempatinya. Ikan besar tentu menempati wadah berukuran besar. Wadah kecil untuk ikan kecil atau potongan kecil ikan besar. Keragaman bentuknya juga tergantung yang laku di wilayah tersebut.
Ada bernyet tepa’an untuk udang kecil-kecil. Bernyet tesi untuk tempat ikan kenduy. Bernyet tanggung untuk ikan ce’eng, layang peta’, perka’, dan ikan laes. Bernyet malangan untuk dua ikan cakalan. Bernyet uling berisi ikan matek. Bernyet dandung untukan satu ikan cakalan berukuran besar.
Cara pembuatan bernyet sebagai berikut: Pertama, potong bambu sesuai ukuran yang akan dibuat. Beda nama bernyet-nya, beda pula ukurannnya. Berikutnya, bambu dibelah berukuran kecil menyesuaikan model yang dirancang. Langkah ketiga adalah pengiratan. Potongan bambu ditipiskan, lantas dijemur agar layu. Setelah siap, langkah terakhir adalah pengayaman. Iratan-iratan kecil dianyam satu-persatu hingga berbentuk balok.
Menjual bernyet bukan hal sulit, karena sudah ada yang menampung. Secara umum, pengrajin menjual bernyet ke salah satu juragan besar (pengepul) di desa. Bernyet bisa di antar ke lokasi, atau dijemput pembeli.
Sistem penjualannya per satu ikat yang setiap ikat berisi seratus bernyet. Harganya disesuaikan ukuran atau model bernyet. Biasanya, bernyet ukuran kecil dihargai Rp 11.000, tanggung sekitar Rp 21.000, yang besar bisa sampai Rp 35.000. Harga sewaktu-waktu bisa berubah, tegantung musim atau banyak-sedikitnya tangkapan ikan.
Bernyet yang sudah diantar ke pengepul dikirim dalam jumlah besar ke nelayan secara langsung atau lewat pihak lain. Pengirimannya tidak hanya di Bondowoso, tapi terkadang sampai ke Trenggalek dan Surabaya.
- Penulis adalah pengajar di Madrasah Diniyah Pesantren Darul-Fikri dan Pesantren Nurul Dhalam di Kecamatan Wringin, Bondowoso, sekaligus pengrajin bambu.


