mepnews.id – Betul bahwa kejujuran itu jadi salah satu perintah agama. Betul juga bahwa masyarakat sangat menuntut kejujuran. Benar bahwa kejujuran bisa membuat seseorang mendapat tempat mulia karena dipercaya masyarakat.
Tapi, senyatanya, kejujuran itu tidak selalu terasa manis. Lebih-lebih saat seseorang harus berhadapan dengan kebohongan. Apa lagi zaman sekarang ini kebohongan bisa hadir dengan hingar-bingar. Maka, seperti dinyanyikan Billy Joel, “Honesty is such a lonely word. Everyone is so untrue.”
Kenyataan yang tak cukup manis itu terungkap dalam tulisan-tulisan dalam buku ‘Jujur’ yang terbit Januari 2023. Kisah-kisah dalam buku ini menyiratkan, butuh perjuangan untuk bisa jujur atau jujur itu menyertakan beberapa pengorbanan.
Salah seorang penulis di buku ini mengisahkan bagaimana ia menyembunyikan kondisi tubuhnya sendiri hingga sakit bertahun-tahun dan akhirnya kehilangan organ yang sangat berharga. Penulis lain memaparkan beratnya berbisnis jujur tanpa suap-menyuap.
Meski demikian, 24 kisah dalam buku garapan Teguh Wahyu Utomo ini tidak melulu mengekspose sisi negatif. Justru semuanya ingin menunjukkan kejujuran itu baik meski harus diiringi dengan perjuangan berat. Jujur yang tulus tentu berakhir dengan kebaikan meski waktunya tidak instan.
Tampilan wajah bukunya juga penyampaikan pesan tertentu. Seluruh halaman nyaris putih bersih sebagaimana kejujuran jadi cermin kesucian. Hanya ada tulisan Jujur warna merah untuk mewakili judul buku ini dan nama penulis warna hitam.
Cover yang minimalis ini membawa makna maksimalis.


