Oleh: Teguh W. Utomo
mepnews.id – Tidak dapat dipungkiri, sekarang peradaban sudah mulai mengarah ke artificial intelligence. Teknologi terutama yang berbasis sistem komputer sudah mulai bisa menjalankan tugas-tugas yang normalnya membutuhkan kecerdasan manusia. Teknologi sudah bisa melakukan persepsi visual, mengenali suara, bahkan bisa membuat keputusan. Sejumlah robot bisa melakukan operasi pembedahan.
Karena era artificial intelligence sudah dimulai, kita harus bersiap. Apa yang bisa dilakukan untuk membawa pendidikan ke tingkat lebih canggih di era artificial intelligence? Apa yang bisa membuat pendidikan jadi lebih praktis dan menyenangkan?
Kuncinya adalah pembelajaran yang lebih personal, pembelajaran berdasarkan pengalaman dan pembelajaran berbasis penguasaan.
‘Pembelajaran berbasis personal’ mengacu pada beragam program, pengalaman belajar, pendekatan pengajaran, dan strategi yang lebih memberi pemahaman berdasarkan preferensi, minat, aspirasi, kelemahan, kelebihan, atau latar belakang budaya berbeda dari masing-masing siswa. Hasil dari pembelajaran ini adalah pengalaman pendidikan yang lebih cocok untuk masing-masing individu dan memaksimalkan apa yang individu bisa dapatkan dari setiap kelas.
Laporan penelitian oleh Bill & Melinda Gates Foundation menemukan, siswa di sekolah yang menggunakan strategi ‘pembelajaran berbasis personal’ membuat kemajuan akademik lebih besar.
Selain itu, banyak penelitian nourologi menunjukkan bagaimana pengalaman yang dipersonalisasi ini mempengaruhi secara positif bagaimana otak menerima informasi serta memberikan banyak ide relevan tentang bagaimana pembelajaran bekerja pada tingkat syaraf sinaps.
Pembelajaran berbasis personal penuh tentu membutuhkan kurikulum pendidikan yang cair, fleksibel, dan non-linear. Gurunya tentu harus trampil bermacam-macam keahlian, paham cara menangani siswa satu-per-satu, serta pintar berkomunikasi. Siswa juga diperbolehkan memilih guru yang sesuai dengan kebutuhan tujuan pembelajarannya, sesuai dengan minatnya, dan bahkan sesuai dengan perasaannya. Siswa bisa memilih guru yang cocok dan yang tidak.
‘Pembelajaran berbasis penguasaan’ didasarkan pada ide sederhana: ketika berhadapan dengan mata pelajaran kumulatif (misalnya, Matematika, di mana pengetahuan masa lalu sangat penting untuk memahami pengetahuan berikutnya) maka pemahaman dan keahlian seorang siswa harus terus bergerak maju setelah menguasai semua konsep yang mendahuluinya.

Pembelajaran bersifat lebih personal, berdasarkan pengalaman, dan menekankan penguasaan materi.
Siswa tidak perlu mendapat nilai 100 atau A untuk dikatakan brilian. Boleh saja sekadar nilai C atau 60, asal setiap waktu ada kemajuan. Koq cuma sebegitu? Harap dipahami, nilai yang tertera di kertas ujian atau bahkan di buku rapor bukanlah metrik yang andal untuk mengukur penguasaan siswa atas materi pembelajaran tertentu.
Ada perbedaan nyata antara yang benar-benar memahami suatu subjek dengan yang hanya belajar bagaimana melewati serangkaian tes atau ujian. Siswa A saat ujian mendapat nilai 60 karena mengerjakan dengan sempurna 60% soal dan melepas 40% lainnya. Siswa B bisa dapat nilai 100 karena mengerjakan dengan benar semua soal tak peduli bagaimana caranya dan prosesnya. Contoh pertama menunjukkan siswa A betul-betul menyukai dan menguasai materi meski hanya 60%. Penguasaan siswa A ini bisa ditambah seiring waktu. Contoh kedua menunjukkan siswa B asal dapat nilai tinggi meski tidak menguasai atau berminat pada materinya.
‘Pembelajaran berbasis pengalaman’ didasarkan pada ‘learning by doing’. Belajar melalui pengalaman langsung sangat berbeda daripada sekadar mendengarkan ceramah pasif. Otak lebih menyukai pengalaman. Pengalaman melibatkan sebagian besar indera, membangun keterampilan sosial-emosional, menciptakan konteks untuk menghafal, memperluas pemikiran kritis, dan lebih relevan dengan aplikasi kehidupan nyata. Guru memberi tantangan pada siswa untuk mengalami sesuatu, dan memberikan cara pada siswa untuk melakukan refleksi.
Susah? Mungkin! Banyak biaya? Benar! Gurunya? Ya harus inspiratif!
Meski berat, sistem pendidikan kelak bakal diarahkan ke situ. Lebih-lebih, perkembangan dunia semakin mengarah ke artificial intelligence yang menggiring generasi semakin personal, semakin trampil pada bidang tertentu, dan semakin menuntut pengalaman nyata.


