Sesekali Kita Perlu Berbohong

Oleh: Teguh W. Utomo

mepnews.id – Di zaman sekarang, kejujuran masih sangat dihargai. Bahkan, dalam banyak hal, kita dituntut untuk jujur. Tapi, jujur saja, susah bagi kita untuk bisa 100 persen jujur. Orang yang sangat jujur pun kadang sesekali bisa brbohong.

Dalam kondisi tertentu, kita perlu ‘jujur strategis’. Harus tahu kapan jujur dan kapan harus bersiasat tapi tetap jujur, dan bagaimana bersiasat dengan jujur tapi aman. Tekniknya, ungkapkan atau lakukan sesuatu dengan jujur namun bisa dipersepsikan dengan berbeda oleh pihak lain.

Di sisi lain, dalam kondisi tertentu, terlalu jujur itu justru bisa berpotensi bahaya atau bisa berdampak merugikan. Maka, jangan menjadi ‘radical honest’.  Silakan saja sesekali melakukan white lie. ‘Bohong putih’ ini maksudnya menutupi sesuatu demi kebaikan.

Misalnya, seorang bapak pulang kerja dengan wajah berseri menyambut pelukan anak kecilnya, meski dua jam lalu ia baru saja dimarahi bossnya karena gagal melakukan tugas.

Misal lainnya; “Nasi ini untukmu saja, Nak. Ibu masih kenyang,” kata seorang ibu yang menahan lapar saat di rumah sudah tidak ada lagi stok beras.

Di era digital global dan berbagai efek baik-buruk, kita juga jangan jujur habis-habisan saat kontak dengan orang tidak dikenal. Di jagad maya, ada begitu banyak orang asing yang jelas-jelas berbohong. Orang yang profile picture dan namanya sudah kita kenal, bisa saja aslinya justru orang lain yang betul-betul asing bagi kita. Ingat kasus-kasus semacam ‘Mama minta pulsa’ kan? Nah, kalau orang-orang semacam ini ditanggapi dengan jujur, bisa-bisa data kita dicuri dan digunakan untuk hal-hal yang tidak baik.

Di jagad nyata, boleh kita jujur saat ada orang yang asing bertanya tentang hal-hal umum. Misalnya, saat orang itu bertanya tentang jalan menuju Balai Kota lewat mana. Tapi, jika bertanyanya sudah menyangkut hal-hal pribadi, dan bahkan privacy, ada baiknya kita waspada. Jika bertanyanya makin aneh-aneh, lebih aman tinggalkan saja. Berbohong pada orang semacam ini bisa mengurangi risiko keamanan diri.

 

Facebook Comments

Comments are closed.