Oleh: Moh. Husen*
mepews.id – Menjelang Maghrib, saya bersama Fajar sampai juga di Pesanggaran. Sembari menunggu balasan WhatsApp, kami cari warung kopi. Setelah WA dibalas dan beres segala sesuatunya, kami geser dan hingga jam 10 malam ngopi-ngopi di angkringan milik seorang kawan yang ingin kami temui.
Beberapa teman di sana saya kontak. Ada Maulana, Miftahul Huda, dan Tromol. Menjelang Isya’, hanya Tromol yang bisa datang. Nama resminya Taufiq Qurrohman. Entah bagaimana ceritanya, nama yang indah itu kemudian disepakati secara kultural dengan panggilan Tromol.
Kami ngobrol ngalor-ngidul ke sana ke mari. Sayangnya Tromol gak bisa lama. Besok pagi dia menghadiri acara jauh di kota. Pesanggaran-Rogojampi saja sudah jauh, 50-an km. Acara dia Rogojampi masih terus ke utara. Rupanya Tromol pandai menghitung waktu. Dengan sikap yang ramah dia pamit.
Pernah suatu ketika Tromol jauh-jauh dari rumahnya untuk sowan ke rumah Ahmad Rifa’i Tedjo. Tedjo ini sahabat sekaligus guru terbaiknya Tromol. Hampir permasalahan apa saja, Tedjo selalu menjadi rujukan, tempat curhat, dan teman diskusinya Tromol. Termasuk tatkala jauh-jauh sowan, ternyata Tromol punya bab khusus yang tak bisa ditulis di sini.
Nah terhadap bab khusus ini, Tedjo segera menimpalinya dengan gaya khas warung kopi. Dia hajar Tromol: “Pokoknya kamu harus menikah dulu. Tak usah membahas bab khusus, sebelum kamu menikah. Bayangkan, dulu kamu ngopi bersamaku. Lalu aku menikah, kamu ngopi dengan adikku. Adikku menikah, kamu ngopi dengan adiknya adikku. Lama-lama kamu ngopi sama anakku…”
Saya tertawa terpingkal-pingkal. Tedjo itu canggih juga kalau melucu.
Namun tulisan ini segera saya sudahi sampai di sini, karena dua alasan. Pertama, karena Tromol dan saya bukan orang terkenal. Jangan-jangan minat baca masyarakat melemah dan menurun gara-gara saya menulis orang-orang yang tidak terkenal. Apalagi kalau sampai menulis kearifan tambal ban, siapakah yang perlu membacanya?
Alasan kedua, karena menulis itu sulit. Kalau ada yang mengatakan menulis itu mudah, silakan dicoba. Jangan gampang percaya kepada teori, apalagi teori saya. Karena yang terpenting adalah mencobanya dan membuktikannya. Kalau setelah dicoba kok ternyata menulis itu gampang, silakan diteruskan. Kalau sulit, coba lagi dan coba lagi.
Apalagi saya baru sadar bahwa menulis kebaikan orang lain itu sulitnya minta ampun. Yang gampang itu menulis dan memviralkan keburukan-keburukan orang lain. Bisa-bisa sekali nulis langsung mengalir ide ratusan paragraf bahkan bisa sampai panjang ratusan tahun.
Jadi, kalau saya boleh berkelakar: “Ciri orang baik itu sulit ditulis, apalagi ditulis sampai panjang. Termasuk Tromol ini, hehehehe….”
Banyuwangi, 5 Januari 2022
*Catatan kultural penulis buku Setelah Kalah, Setelah Menang. Tinggal di Rogojampi-Banyuwangi.


