The Bird Fans Nanang Sugianto

Oleh: Moh. Husen*

mepnews.id–Menjelang hari raya Natal 25 Desember 2022 saya menulis Nanang Sugianto. Tapi jangan dikira dia seorang pastur. Mulanya saya ingin menulis Joko Tama, Very atau Piki Shaleh. Tapi saya tunda kapan-kapan saja. Sekarang menulis Nanang Sugianto. Dia seorang penggemar burung yang bijak.

Kepada para pembaca yang terhormat, saya mohon untuk tidak bertanya apakah Nanang Sugianto ini tokoh nasional, orang besar, orang penting atau dia cuma tukang panjat kelapa yang kebanyakan orang diam-diam merendahkannya. Dia juga tak memerlukan pujian saya sebagai sosok yang bijaksana.

Mungkin saya salah menilai Nanang Sugianto sebagai seorang sahabat yang memiliki pribadi yang bijak. Kata orang, pujian itu ujian sedangkan cacian itu obat. Dan saya tertawa dalam hati: “Ah, masak saya sekarang sedang menguji Nanang Sugianto, hehehe….”

Kalau Rita Sugiarto jelas dia penyanyi dangdut terkenal di negeri ini, serta pasangan duet Rhoma Irama dalam lagu Tulus Hati Luhur Budi. Kalau Nanang Sugianto, sama dengan saya: bukan penyanyi dangdut dan bukan orang terkenal. Kami sekedar sahabat ngopi yang biasa-biasa saja.

Dalam obrolan warung kopi, Nanang Sugianto senantiasa menghindari perdebatan yang serius. Dia jagoan untuk ngalah. Dia bisa mengalihkan pembicaraan yang berbau amarah, menjadi berbelok ke tema yang lain, yang lucu-lucu, sehingga suasana menjadi cair, penuh gelak tawa.

Pada hari Minggu saya pernah telfon dia untuk saya ajak ngopi. Ternyata dia sedang mengikuti lomba burung berkicau di daerah Pengatigan. Saya tancap ke sana. Luar biasa juga orang-orang pecinta burung ini. Lumayan ramai, ada sekitar 50-an orang. Saya kagum. Saya kurang hobi dengan hewan peliharaan jenis apa saja.

Tapi ada satu hal yang membuat hati ini merasa kehilangan. Akhir 2022 ini dia memutuskan keluar dari pekerjaan yang telah dia tekuni selama 3 tahun lebih. Asem tenan. Dia seprofesi dengan saya. Ingin saya pisuhi dia. Tapi ya mau gimana lagi. Dia salah satu sahabat yang sering saya tanyai dan mbayari saya ngopi.

Dalam hidup ini seseorang memang harus selalu berusaha memilih yang terbaik. Dan Nanang Sugianto telah memilih profesi yang lain dan terbaik menurut dia. Bukan terbaik menurut Karmin, Sulaiman, Minak Jinggo, Syekh Siti Jenar, atau Sunan Kalijaga.

Doa saya: semoga terbaik pula menurut Tuhan. Amin.

Banyuwangi, 24 Desember 2022

*Catatan kultural penulis buku Setelah Kalah, Setelah Menang. Tinggal di Rogojampi-Banyuwangi.

Article Tags

Facebook Comments

Comments are closed.