Oleh: Teguh Wahyu Utomo
mepnews.id – Kita diberi dua telinga dan satu mulut. Secara filosofis, itu artinya kita diminta lebih banyak mendengar daripada berbicara. Komunikasi jadi tidak efektif jika salah satu pihak terlalu mendominasi ucapan namun tidak mau mendengarkan. Supaya komunikasi jadi lebih bermanfaat, mari kita coba menjadi pndengar yang baik.
Mengapa harus jadi pendengar yang baik?
Banyak orang suka berbicara tentang diri mereka sendiri, tentang apa yang telah mereka lakukan, tentang kesehatan mereka, ide-ide mereka, dan lain-lain. Saking sukanya, sampai-sampai mereka tidak membiarkan orang lain membuka mulut. Tak pelak, orang lain akan muak dengan egosentrisitas mereka.
Padahal, jika mau lebih bersabar merelakan telinga, kita bisa mendapat banyak keuntungan. Pertama, kita belajar tentang orang lain dan bisa mengembangkan pemahaman. Ini bisa menghilangkan penilaian awal terhadap lawan bicara. Kita bisa membuka peluang melepaskan diri dari bias persepsi.
Kedua, dengan sabar mendengarkan, kita bisa menikmati kebersamaan dengan teman, keluarga, atau siapa saja. Kita bisa jadi benar-benar ingin tahu apa yang terjadi dalam hidup mereka, dan akhirnya kita bisa benar-benar peduli dengan kondisi mereka.
Ketiga, kita bisa terhubung dengan orang lain pada tingkat yang lebih dalam dan lebih bermakna. Ia atau mereka rela mengungkapkan diri mereka pada kita, menunjukkan permasalahan mereka, harapan dan ketakutan mereka, kegembiraan mereka, dan lain-lain yang lebih dalam.
Keempat, dan yang lebih mendasar, adalah mendengarkan itu bisa membuat kita ‘menjadi manusia’. Dengan mau mendengarkan, kita membuka diri secara mental dan emosional pada orang lain. Ini bisa membuat kita bisa bersimpati dan berempati terhadap kekhawatiran dan kebahagiaan mereka.
Bagaimana? Mau lebih banyak membuka lebar telinga?


