Pendidikan dan Degradasi Karakter

Oleh: Siti Nur Afifatul Hikmah, M.Pd.

mepnews.idd – Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan seseorang menghadapi dunia melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang telah dilakukan.

Menurut Undang-Undang SISDIKNAS No.20 tahun 2003, pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang baik, pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat bangsa dan negara.

Secara etimologi, kata pendidikan berasal dari bahasa Latin yaitu ducare yang berarti ‘menuntun, mengarahkan, atau memimpin. Maka, karena mengarahkan, konsep pendidikan memerlukan ilmu dan seni. Dalam hal ini, proses atau upaya sadar antar manusia dengan sesama secara beradab, di mana pihak kesatu secara terarah membimbing perkembangan kemampuan dan kepribadian pihak kedua secara manusiawi yaitu orang perorang.

Pendidikan sebagai suatu pembelajaran akan pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi melalui pengajaran, pelatihan, dan penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan dan kontrol orang lain, akan tetapi juga memungkinkan terjadi otodidak.

Pendapat lain menyebutkan, suatu pendidikan merupakan proses humanisasi melalui taraf pengangkatan manusia ke taraf insani. Hal ini artinya, pendidikan adalah usaha membawa manusia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia.

Proses belajar juga menuntut upaya memahami bagaimana individu berbeda dengan yang lain. Pada sisi yang lain, pendidikan memahami bagaimana menjadi manusia seperti manusia lain. Oleh karena itu, pendidikan semestinya memberi tempat pemberdayaan diri berdasarkan paragdigma, karakter, dan motif diri.

Pendidikan yang baik, menurut Ki Hajar Dewantara, melibatkan tiga bidang; ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Artinya, apabila di depan menjadi teladan, di tengah (bersama anak) membina anak dan memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan (motivasi)”.

Ing ngarso sung tulodo. Orang yang mendidik atau orang tua aktif patut memberi contoh, dan anak pun aktif menerima, mengikuti contoh yang diberikan. Ing madyo mangun karso. Orang tua secara aktif membina potensi diri anak, anak bereaksi mengembangkan dan menyalurkan potensinya. Tut wuri handayani. Orang tua (penddik) mengikuti dan memberi dorongan dengan tetap memberikan pengaruh kepada anak, dan anak aktif bergerak maju.

Pendidikan juga merupakan upaya normatif yang mengacu pada nilai-nilai mulia. Nilai yang menjadi bagian dari kehidupan bangsa. Nilai tersebut dapat dilanjutkan melalui peran transfer pendidikan baik aspek kognitif (pengetahuan), sikap (afektif), atau pun keterampilan (psikomotorik).

Pendidikan juga mampu membimbing manusia menjadi manusiawi yang makin dewasa secara intelektual, moral dan sosial. Dalam konteks ini, pendidikan sebagai pemelihara budaya. Dalam perubahan arus globalisasi yang begitu cepat, pendidikan tidak cukup sebagaimana yang telah diuraikan, tetapi juga harus mampu melakukan tranformasi nilai dalam tataran instrumental, sesuai tuntutan perubahan dengan tetap menjadikan nilai dasar sebagai fondasi.

Lantas dari pelbagai asumsi pendidikan di atas, apakah rancangan mulia pendidikan bangsa saat ini sudah terealisasikan? Tampaknya belum!

Hal ini karena pendidikan kita belum mencapai titik optimalisasi dan menjadi wahana humanisasi bagi anak didik. Pendidikan bukannya menjadi ruang menyemai humanisasi, malah menjadi wahana kekerasan dan ketidakmanusiawian anak didik.

Buktinya, banyak perundungan di satuan pendidikan. Beberapa kasus bahkan menyebabkan siswa meninggal dianiaya guru dan siswa mengalami kelumpuhan karena dikeroyok teman sebayanya.

Berdasarkan pemantauan media dan pengawasan perundungan di satuan pendidikan sepanjang 2021, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 17 kasus kekerasan yang melibatkan peserta didik dan pendidik. Jumlah itu hanya yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan. Sementara, kekerasan juga terjadi di luar satuan pendidikan.

Selain maraknya tindak kekerasan, pendidikan kita juga dihadapkan pada fenomena degradasi moralitas. Contoh paling sederhana adalah hilangnya sikap penghormatan kepada orang yang lebih tua, tetap berkembangnya budaya mencontek, adanya sikap anarkis. Pada jam pelajaran, bukannya mengikuti kegiatan di kelas, justru ada yang nongkrong di kantin atau warnet. Hal tersebut tak selayaknya menjadi budaya bagi generasi bangsa.

Bangsa kita sepertinya telah kehilangan kearifan lokal. Kearifan yang menjadi ciri khas atau karakter suatu bangsa sejak berabad-abad. Tak heran jika pembentukan dan pembinaan karakter bangsa menuju masyarakat yang memiliki moral, berbudi pekerti luhur, dan menjunjung tinggi semangat nasionalisme, saat ini bisa diibaratkan ‘laksana kapal tanpa pedoman di tengah luasnya samudra.”

 

* Penulis adalah dosen Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi.
Email : afifahikmah16@gmail.com atau sitinurafifatulhikmah@iaida.ac.id

Facebook Comments

Comments are closed.