Quiet Quitting yang Digemari Anak Muda

mepnews.id – Belakangan ini, fenomena quiet quitting menjadi salah satu topik yang marak diperbincangkan. Perilaku yang membatasi diri untuk tidak melakukan hal-hal lebih di tempat kerja ini digadang-gadang bakal menjadi tren baru yang diminati gen Z dan milenial.

Reza Lidia Sari, dosen mata kuliah Psikologi Organisasi dan Industri Unair.

Reza Lidia Sari SPsi MSi, dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (Unair), menjelaskan quiet quitting merupakan respons perlawanan dari hustle culture yang menganggap pentingnya dedikasi amat tinggi pada pekerjaan. “Perilaku ini berkebalikan dengan extra-role behavior di mana seseorang berkenan mengerjakan pekerjaan di luar job desc-nya demi kelancaran sistem organisasi,” jelasnya.

Dosen mata kuliah Psikologi Organisasi dan Industri itu menyebutkan, sejatinya quiet quitting bukan perilaku yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. “Masing-masing perilaku memiliki kelebihan dan kekurangan,” sebutnya.

Saat membatasi pekerjaan sesuai porsinya, seseorang dianggap dapat menciptakan kondisi work-life balance. Kondisi ini membatasi antara dunia kerja dan dunia non-kerja yang menjadi situasi idaman bagi kebanyakan gen Z dan Milenial. “Selain itu, tren ini dianggap sebagai hal yang positif karena dapat secara efisien memaksimalkan jam kerja tanpa harus lembur,” lanjutnya.

Quiet quitting juga menjadi salah satu mekanisme coping untuk mencegah overwork. “Bisa menjadi jalan keluar untuk pulih dalam burnout dalam bekerja, menarik diri sejenak untuk mengatur ritme kerja yang lebih baik,” jelasnya.

Menurut Reza, secara individual perilaku quiet quitting dapat menyebabkan seseorang kurang termotivasi dalam menjalankan perannya sebagai karyawan. Akibatnya, kontribusi yang diberikan kepada perusahaan jadi lebih kecil sehingga menyebabkan terhambatnya jenjang karir dia.

Reza juga menyebutkan, perilaku ini dalam organisasi dapat menyebabkan konflik antar karyawan. “Kecemburuan sosial dapat timbul ketika melihat perbedaan beban atau waktu pulang yang berbeda. Untuk itu, sebelum timbul konflik sosial, pemimpin organisasi harus peka terhadap situasi ini,” sarannya. (*)

Facebook Comments

Comments are closed.