Lupa

Oleh: Moh. Husen*

mepnews.id – Sudah lama saya jarang sekali ngimami shalat lima waktu. Suatu maghrib, karena telat berjamaah, seorang sahabat berinisial A tiba-tiba iqomat dan menyuruh saya jadi imam.

Wah, gawat. Saya gerogi. Tapi ya mau gimana lagi, kalau berdebat bisa keburu isya’. Saya pun segera tancap ngimami. Surat pasca Al-Fatihah saya pilih yang paling pendek: An-Nas dan Al-Ikhlas.

Usai shalat, ngopi-ngopi, lalu pulang naik mobil sahabat A. Di mobil hitam itu, iseng-iseng saya ceritakan betapa bagus tulisan Dahlan Iskan berjudul Anang Famred, yang mengulas ketua DPRD Lumajang Jawa Timur, Anang Akhmad Saifuddin.

Anang mengundurkan diri dari jabatan ketua DPRD Lumajang hanya gara-gara salah dalam membaca teks Pancasila sila ke-4 saat peristiwa demo mahasiswa perkara BBM naik.

“Kita ini, meskipun mungkin telah ribuan kali baca Al-Fatihah, sangat mungkin lho bisa lupa atau salah dalam membacanya,” demikian saat itu saya bilang, sambil saya selingi candaan.

Untunglah saat ngimami shalat maghrib itu Fatihah dan surat-surat pendek saya lancar. Serta tidak lupa kalau maghrib itu tiga rakaat. Sebab, ada teman yang shalatnya ‘istiqomah‘ hanya shalat Jumat, sehingga shalat apa saja terkadang lupa, hanya dikerjakan dua rakaat.

Secara pribadi saya sepakat bahwa sebaiknya Anang Akhmad Syaifuddin tak perlu mundur dari jabatannya. Masak gitu saja malu, di tengah-tengah situasi siapakah yang punya rasa malu di zaman ini? Mestinya tinggal minta maaf, lalu menjelaskan ‘saat itu saya capek dan lupa’. Selesai. Tapi, Anang pilih mundur dan menyebut dirinya tidak hafal Pancasila.

Orang mungkin akan bilang, ekonomi Anang sudah aman sehingga tenang-tenang saja mengundurkan diri dari jabatannya. Padahal fakta zaman ini adalah meskipun ekonomi sudah mapan, banyak sekali contoh di depan mata kita sendiri orang-orang rakus yang tak pernah malu rangkap jabatan meskipun ekonominya sudah aman.

Setelah Anang, tema bergeser mengenai betapa rejeki Tuhan tak bisa dihalangi oleh pengangguran serta tak bisa dipastikan oleh penguasa. Artinya, pengangguran tak boleh memastikan dirinya tak bisa makan.

Begitu pula penguasa. Besok pagi bisa divonis dilarang ngopi oleh dokter karena suatu hal kronis di tubuhnya. Padahal dia sudah terlanjur janjian ngopi pagi.

Banyuwangi, 17 September 2022

* Catatan kultural penulis buku Setelah Kalah, Setelah Menang. Tinggal di Rogojampi-Banyuwangi.

Facebook Comments

Comments are closed.