Oleh: M. Yazid Mar’i
mepnews.id – Fenomena keramaian warung kopi seperti tengah mewarnai negeri ini.
Hampir sebulan terakhir, saya menggunakan liburan hari Jumat untuk membersamai istri tugas negara. Kami melakukan visitasi pada institusi PAUD (TK/RA/BA) dari ujung barat Jawa Timur; Ponorogo, Madiun, ke selatan Nganjuk, ke timur Lamongan, ke utara Tuban. Kami turut sedikit mengantar generasi tentang tanggungjawab terhadap negeri. Dimulai dari bagaimana pimpinan institusi, guru, menata ulang kembali dan melakukan penyadaran akan pentingnya pendidikan karakter sebagai titik awal membangun umat dan bangsa.
Tentu warung kopi adalah tempat nyaman bagi saya untuk duduk tanpa khawatir terusir meski berjam-jam hanya memesan secangkir seduhan kopi pahit. Saat menunggu usainya kegiatan ibu negara, sesekali saya pesan camilan atau mie godhog atau mie goreng untuk memperpanjang waktu duduk, sekalian menutup rasa malu pada penjajanya.
Kondisinya sedikit berbeda, memang.
Dulu, warung kopi identik dengan penjualnya yang bahenol, semlohai, atau minimal dapat sedikit membuyarkan mata memandang, bergeser kepada nikmatnya kopi dan suasana sekelilingnya. Tak jauh dari WBT cafe di Bojonegoro.
Kini, warung kopi dengan free-WiFi. Nge-chip sudah menjadi pemandangan yang tak terbantahkan, dengan pelanggan anak-anak muda, remaja, anak sekolah. Sesekali games juga lumayan menyedot minat mereka. Sedikit berbeda di WBT, ada sejumlah guru yang terkadang juga nge-chip dan nge-games.
Entah apakah warkop di Yogyakarta atau Malang masih seperti dulu? Sekitar 20 tahun lalu, keseharian mahasiswa di kota-kota itu berkutat dari satu seminar ke seminar lain. Bahkan, dalam sehari saja mahasiswa dapat menikmati 5 hingga 6 kali seminar dengan berbagai komunitas berbeda. Sudah itu, mahasiswa masih juga harus menyaksikan pagelaran budaya dari berbagai keahlian. Tak pelak, warung atau kedai diwarnai perdebatan tentang manusia dan kegiatanya, negara dengan segala tetek bengeknya, bahkan sampai memperdebatkan Tuhan dan eksistensiNya.
Dulu, kondisi warkop di Jakarta sedikit berbeda. Bukan seminar, yang menjadi hobi kelas mahasiswa adalah kajian dan diskusi publik dari para tokoh nasional di zamanya. Kala itu, keterbatasan penyampaian di ruang publik masih begitu kental –sangat berbeda dengan hari ini dengan segala kebebasannya.
Warkop-warkop di Yogyakarta, Malang, Jakarta, masihkah menyisakan semua yang dulu pernah ada? Ataukah juga telah berubah seperti warkop di kota-kota yang sempat kusinggahi di Jawa Timur belakangan ini?
Jika hilang semua, tentu hilang pula nasib generasi bangsa ke depan. Semua telah teracuni sisi buruk modernisasi teknologi komunikasi berkecepatan tinggi. Teknologi bagaikan dua mata pedang; kalah dan menang; mati atau hidup untuk abadi.
Kedai Kopi Adem Ayem Labuhan Brondong Lamongan
siang hari dalam mata
19 Agustus 2022


