Kesertaan dalam Kesetaraan

Oleh: Mami Widiana

mepnews.id – Bunda mau pup,” kata satu murid kepada guru PAUD. Namun, baru nyampai pintu kamar mandi, isinya sudah berantakan semua.

“Gak papa, Nak. Bunda gak marah kok. Ayo lanjutkan, biar yang lain Bunda bersihkan.”

Begitulah kesabaran bunda PAUD. Walau bau dan kotor, ia tetap sabar dan tersenyum.

Menjadi bunda PAUD adalah pangggilan hati. Ada juga yang cita-cita. Bisa juga karena terpepet keadaan, namun akhirnya tresno alias cinta.

PAUD alias Pendidikan Anak Usia Dini adalah jenjang pendidikan sebelum pendidikan dasar. Ini upaya pembinaan yang bagi anak sejak lahir sampai usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan Pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar tumbuh dan berkembang secara optimal.

PAUD penting bagi perkembangan anak. Seumlah ahli berkata, melalui PAUD anak bisa belajar berinteraksi dan menjalin hubungan sosial dengan anak-anak seusianya secara berkelompok.

Namun, banyak kegiatan di PAUD yang kadang membuat hati teriris dan nestapa. Fasilitas outdoor maupun indoor yang kurang memadai. Ruang kelas yang sempit. Fasilitas mainan seadanya.

Belum lagi soal honor atau insentif guru. Menurut peraturan undang undang, guru PAUD masih dianggap sebagai pengasuh. Bayarane atau gajinya adalah YEN. Alias, yen ono yo dibayar yen ra ono yo iklas wae (Kalau ada, dibayar. Kalau tidak ada uang, ya gak digaji alias ngowoh). Bahkan, lagi booming gaji SAJUTA (sabar, jujur, dan tawakal) karena mereka pemegang KMS (kartu menuju surga).

Tapi, jujur saja, guru PAUD juga manusia yang butuh makan. Mereka punya keluarga yang punya kebutuhan hidup. Maka, manusiawi jika para guru PAUD ingin diperlakukan sama seperti pendidik di jenjang lebih atas.

Ada sebuah cerita tentang seorang Bunda PAUD yang sebut saja namanya Bunda Saropah. Sudah 14 tahun beliau jadi pendidik anak berusia 3 – 4 tahun atau lebih dikenal dengan sebutan play group. Kebetulan gedungnya satu atap dengan gedung SD.

Suatu Senin, beliau naik sepeda ontel sehingga jam 6.30 sudah sampai di sekolahan. Beliau lalu menyapu kelas, halaman, kamar mandi, sehingga jam 7.00 sudah di depan kelas dengan senyum menyambut anak didiknya. Jam 08.00, anak-anak sudah waktunya masuk. Muridnya 15 anak. Beliau mengajar berdua dengan kepala PAUD. Mereka bermain, bernyanyi. Ada juga anak yang mau kencing, ada yang bertengkar, ada yang mau minum, ada yang menangis.

Tak pelak, peluh membasahi kening Bu Saropah. Wajahnya agak pucat karena belum sempat sarapan. Tapi, apa yang dikatakan Bu Saropah pada anak didiknya?

“Nak, tolong jadi pendengar yang baik ya… Ayo kita kerjasama membereskan semuanya. Oke? Anak baik pasti mau,” kata Bu Saropah dengan sabar meredakan kegaduhan.

Begitulah, bunda PAUD. Tetap tersenyum walau Lelah. Tetap sabar walau jengah.

Setelah anak-anak pulang, Bunda Saropah duduk di teras dan mengambil botol minum yang dibawa dari rumah.

Ternyata, kegiatan Bunda Saropah dari pagi diamati dari gedung SD di sebelahnya. Seorang guru perempuan menghampiri Bunda Saropah.

Bu..bu, panjenengan polahe yo koyo ngunu kui bendino lak momong bocah, nganti kemringet, pucet ning tetep kudu sumringah (Bu, Anda setiap hari kerjanya seperti itu, berkeringat, sampai pucat, tapi tetap semangat,” kata guru SD.

Injih (iya),” jawab Bu Saropah pendek sambil tersenyum.

“Lha bayaranmu wes piro sak iki ben ulane (Gaji Anda berapa sebulannya?)” tanya bu guru SD.

Bunda Saropah hanya tersenyum menjawab, “Setunggal atus, Bu, menawi wonten. Lak mboten njih naming seket (Seratus ribu, Bu, kalau ada. Kalau tak ada, ya cuma lima puluh ribu rupiah).”

Bu guru SD langsung ke kantor. Agak lama, dia keluar lagi dan menggandeng Bunda Saropah ke kantor. Di dalam kantor, bu guru tadi menangis dan memeluk Bunda Saropah. Sambil sesenggukan, beliau berkata, ”Bu, saya dulu salah satu orang yang melecehkan profesi guru PAUD. Saya sempat berpikiran, wong kerjanya cuma momong kok minta kesetaraan segala ke pemerintah. Cuma momong anak kecil kok gaya. Nah, saya baru sadar setelah sedari tadi saya lihat sendiri kerja njenengan yang luar biasa tapi tetap semangat dan tersenyum dan sabar. Saya, yang sudah PNS, tak akan sanggup disuruh momong anak segitu banyak sendirian bertahun-tahun dengan gaji kecil. Momong satu anak yang polahnya gak karuan dibayar satu juta sebulan, saya gak akan sanggup. Bunda, saya salut. Saya kagum sama njenengan,” katanya sambil sesenggukan

Dari cerita di atas, betapa berat tugas seorang bunda PAUD. Tapi, kenyataannya yang terjadi adalah guru PAUD memang dianggap sekadar tukang momong atau baby sitter. Karena keberadaannya non formal, tidak diakui oleh Undang Undang Dosen dan Guru. Padahal, dari PAUD lah pondasi ahlakul karimah ditanamkan.

Usia dini adalah usia emas yang menentukan 17 tahun ke depan perkembangan anak. Hanya Bunda PAUD yang selalu membudayakan memanggil ‘nak’ pada anak didiknya. Hal ini jarang ditemui pada jenjang Pendidikan berikutnya. Kalau anak ditanya siapa guru yang paling diingat dia tua, survey membuktikan hampir 85 persen anak menjawab selalu ingat guru PAUD.

Namun, apa daya. Saat ini belum ada perhatian khusus dari pemerintah. Para guru PAUD dianggap tidak ada. Padahal, mereka benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa. Segala daya upaya telah mereka lakukan untuk setara dengan pendidik di jenjang lainnya. Prestasi telah mereka punyai. Itu sudah terbukti di berbagai event kecil maupun skala nasional. Kualitas mereka bisa diadu. Pelatiahan berjenjang dari dasar sampai mahir sudah diikuti. Kualifikasi sudah hampir seluruhnya juga sarjana. Lembaga sudah banyak yang terakreditasi. Masa kerja banyak yang sudah lebih dari 10 tahun. Masih banyak lagi faktor yang bisa diperhitungkan. Entah apa lagi yang masih kurang untuk membuktikan pada khalayak bahwa mereka juga layak untuk hanya disebut sebagai guru.

Nelangsa memang kalau melihat perjuangan para Bunda PAUD dalam mendidik anak usia dini yang merupakan generasi penerus bangsa.anak-anak PAUD saat ini adalah Generasi Emas pada 2045 saat Indonesia mencapai 100 tahun.

Bunda PAUD hanya bisa bernyanyi lagu Ambyar yang lagi ngetren saat ini. “Ya wes ben tak lakoni nganti sak kuat-kuate ati. Pesenku mung siji, sing ati-ati.”

Bunda PAUD tidak pernah putus asa dan pantang menyerah. Mereka tidak mau dianggap peminta-minta. Saat pandemi, mereka tetap bekerja walau susah dan tidak ada dana. Mereka tetap semangat sesuai mars PAUD yaitu mewujudkan anak usia dini yang sehat cerdas ceria tuk menyongsong masa depan yang cerah.

Semoga ada perhatian dari semua pihak, sehingga lelah mereka jadi lillah dan dapat barokah.

Aamiin.

 

  • Penulis adalah bunda PAUD di Bojonegoro.

Facebook Comments

POST A COMMENT.