Sekali Arang Tercoreng di Medsos

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id –¬†Menjelang Ashar, berangkatlah empat orang naik mobil dari Banyuwangi ke Jombang. Dengan dua kali istirahat untuk makan minum dan shalat, sekitar jam 12 malam sampailah mereka di Jombang. Jalan tol yang mereka lalui sungguh membantu kelancaran perjalanan mereka.

Begitu sampai di Jombang, langsung fokus menemui seseorang yang ingin mereka temui untuk membicarakan beberapa hal. Setelah dirasa beres, cabutlah mereka ke Banyuwangi, tapi dengan begadang terlebih dahulu di warung kopi Jombang hingga menjelang Shubuh.

Saya termasuk dari empat orang tersebut. Sebagai penggemar traveling, tentunya perjalanan Banyuwangi Jombang dan Jombang Banyuwangi tersebut sungguh sangat menyenangkan dan membahagiakan saya. Apalagi ini perjalanan gratisan bagi saya: ngopi dan lain-lain ditraktir seorang kawan yang bijak.

Dulu, dengan beberapa kawan dekat, saya pernah bergurau kalau ada mahasiswa tapi belum pernah ke Jakarta, maka seperti orang yang belum naik haji. Kurang sah menjadi sarjana. Pernyataan guyon semacam itu saya lontarkan setelah saya benar-benar ke Jakarta, pada tahun 2007.

Hal ini saya tuliskan bukan untuk menceramahi bahwa sekedar pernyataan bergurau dengan teman-teman saja harus ada bukti konkritnya, apalagi pernyataan janji serius yang diucapkan di podium dihadiri ribuan orang tapi malah tidak ada perwujudan nyatanya sama sekali, alias setelah bersumpah mensejahterakan masyarakat jangan lantas hanya mensejahterakan dirinya sendiri sambil tenang-tenang saja melihat banyak orang kelaparan.

Saya menulis ini bukan untuk berceramah semacam itu, melainkan sekedar curhat saja, bahwa dari perjalanan ke Jombang itu saya menjadi kangen ingin ke Jakarta. Itupun ingin yang gratisan saja, hehehe…

Ah, lupakanlah. Sekarang saya justru terbawa suasana lain. Tak lagi kangen Jakarta.

Seorang guru tiba-tiba curhat: “Pak, entah bagaimana ceritanya, saya sekarang menjadi guru. Mungkin sudah nasib atau apa saya tidak tahu. Yang jadi masalah Pak, saya ini punya rekam jejak jelek di medsos. Jaman saya nakal dulu, saya pernah pasang foto meminum minuman keras di akun medsos pribadi saya yang bisa dilihat semua orang. Celakanya saya lupa password akun medsos saya itu, sehingga tidak bisa menghapusnya dan saya malu kalau foto-foto nakal saya itu dilihat siswa saya atau wali murid Pak. Sedangkan mau berhenti mengajar rasanya juga tidak mungkin dengan alasan yang tidak bisa saya ceritakan. Bagaimana ini Pak?”

Yang diajak curhat menjawab: “Saya ini barusan disambati seorang calon kepala desa yang kalah dan malu karena hasil perolehan suaranya dipublikasikan di internet yang bisa dilihat banyak orang selamanya. Kemudian Sampeyan menceritakan hal yang serupa bahwa sekali arang hitam keburukan tercoreng di medsos disertai lupa password pula, membuat selamanya orang akan ingat perilaku kelam Sampeyan di masa lalu. Tapi ketahuilah. Sifat masa lalu tak bisa diubah. Yang bisa Sampeyan lakukan sekarang adalah berbuat baik dan tahu diri. Teruslah mengajar menjadi guru yang baik. Siapa tahu Allah melimpahkan rahmat dan ampunanNya kepada Sampeyan disebabkan semua orang belajar kepada potret masa lalu Sampeyan yang tertancap abadi di medsos itu. Semoga semua orang yang melihat masa lalu Sampeyan itu bisa membijaki dan memakluminya dengan baik…”

Saya termangu-mangu sembari menuntaskan kopi hitam saya, kemudian tulisan ini pun saya akhiri.

(Banyuwangi, 4 November 2019)

Facebook Comments

Comments are closed.