mepnews.id – Meski beberapa wilayah di Indonesia berawan dan bahkan hujan, suhu terik tetap mengancam. Belakangan ini, gelombang panas (heat wave) melanda benua Asia dari India hingga Thailand dan Filipina. India mencatat suhu tertinggi 45 derajat Celcius. Bangkok, ibukota Thailand, mencatat 41 derajat Celcius. Vietnam mencatat 44,2 derajat Celcius di distrik Tuong Duong. Pilipina mencatat rekor 51 derajat Celsius indeks panas di Pangasinan. Sementara, BMKG mencatat suhu tertinggi di Indonesia 36 derajat Celcius.
Fenomena gelombang panas ini dapat berdampak buruk pada kesehatan, salah satunya heatstroke. Namun, jangan khawatir, serangan panas yang melumpuhkan tubuh ini bisa dicegah.

Dr Abdulloh Machin
Dr dr Abdulloh Machin SpS(K), dokter spesialis saraf Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair), menjelaskan cuaca ekstra panas membuat cairan di dalam tubuh manusia ikut menguap. Padahal, komposisi tubuh manusia terdiri dari sekitar 60 persen cairan.
“Pada kondisi normal, saat suhu panas, maka cairan tubuh berupa keringat dikeluarkan agar suhu jadi lebih dingin,” katanya.
Tapi, ketika suhu panas ekstrem, cairan tubuh langsung menguap tapi tidak selalu bisa mengatasi peningkatan drastis suhu tubuh. Menguapnya keringan dengan cepat ini tentu disertai hilangnya banyak cairan tubuh. Heatstroke bisa terjadi saat suhu tubuh mencapai 40 derajat Celcius atau lebih yang dipengaruhi suhu di lingkungan.
“Suhu tubuh normal itu 36 derajat Celcius. Tubuh kita mengatur agar suhu ini stabil pada angka 36 atau 37,” papar dr Machin.
Saat suhu panas ekstrim, lalu mekanisme pendinginan tubuh terganggu, maka suhu tubuh meningkat drastis. “Kalau suhu mencapai 40 derajat celcius bahkan lebih, ini mengakibatkan heatstroke,” imbuhnya.
Beberapa tanda dan gejalanya antara lain kapala pusing, pandangan berkunang-kunang, banyak berkeringat, dan tubuh terasa nyeri. Hilangnya cairan dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pada organ lain.
“Suhu panas akan melepaskan zat perangsang peradangan yang bisa merusak otak, ginjal, hati, dan proses pembekuan darah,” ujarnya.
Apabila tanda dan gejala sudah dirasakan, maka pertolongan pertama adalah mendinginkan suhu tubuh. “Cari tempat yang dingin, misalnya masuk gedung yang ada ACnya,” paparnya.
Sembari mendinginkan suhu tubuh, disarankan minum air. Tapi, apabila tanda dan gejala menyebabkan muntah hingga penurunan konsentrasi, maka harus segera dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat untuk diberikan infus.
Ada beberapa pencegahan agar tidak terjadi heatstroke.
Pertama, cukupi kebutuhan cairan tubuh. Jika sedang beraktivitas di luar maka dianjurkan selalu membawa air.
“Kalau cuaca ekstrem, cairan tubuh mudah menguap dan kita bisa merasa tidak haus lalu terjadi heatstroke. Jangan sampai menunggu haus baru minum,” ungkap pengajar Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran (FK) Unair.
Kedua, hindari berolahraga pada kondisi cuaca sangat panas. Saat olahraga, penguapan cairan tubuh terjadi. Bila dibarengi cuaca ekstrim maka penguapan cairan tubuh lebih besar. “Jadi, pilih waktu olahraga yang cuacanya mendukung. Jangan lupa bawa air untuk minum,” jelasnya.
Dr Machin menegaskan, tidak ada ukuran pasti cairan tubuh yang dibutuhkan pada kondisi cuaca ekstrim, namun dibutuhkan cairan lebih banyak. Maka, tambah asupan cairan masuk ke tubuh saat cuaca ekstrim.
“Minumlah air lebih banyak dibanding biasanya. Jika biasanya minum 8 gelas sehari, bisa ditambah jadi 10 gelas atau lebih tergantung cuaca,” kata ia.
Bila seseorang menderita penyakit yang membutuhkan pembatasan asupan cairan, sebaiknya batasi aktifitas di luar ruang pada saat cuaca ekstrim. (*)


