Terlalu Baik Itu Kadang Merepotkan

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Jelas, menjadi orang baik itu baik. Menjadi baik itu karakter yang terpuji. Tapi, segala sesuatu ada takarannya. Bagi orang biasa seperti saya, terlalu baik atau baik berlebihan kadang justru merepotkan dan bahkan mengganggu hubungan dengan orang lain.

Menjadi baik itu ibarat minum kopi. Jika sesuai takaran atau kebutuhan, minum kopi itu menyehatkan dan bahkan bisa mendorong kinerja kita. Tapi, jika kita sehari minum hingga sepuluh gelas kopi atau lebih, itu bisa mengganggu lambung dan sistem syaraf.

Jadi, bagaimana mengatahui bahwa kita telah melewati batas dari baik yang wajar ke wilayah baik yang berlebihan? Saya beri beberapa indikator yang perlu kita kaji;

1. Terlalu baik saat memiliki pandangan berbeda

Terlalu gampang bilang ‘ya’ untuk dengan sengaja menahan perbedaan pendapat adalah salah satu pertanda kita terlalu baik. Meski menerima perbedaan pendapat itu penting, tapi ada potensi masalah juga. Sikap agreeable kita bakal merembet ke area lain. Begitu bilang ‘ya’ pada pendapat tertentu yang berbeda, kita kemudian akan harus menerima konsekuensinya, harus sering menyesuaikan diri dengan saran, kebutuhan, rencana orang lain, tanpa sempat menegaskan kepentingan kita sendiri.

2. Menghindari konflik jika itu merepotkan orang lain

Menghindari konfrontasi atau konflik itu baik dalam batas tertentu untuk menjaga kebaikan bersama. Tapi, jika terus-menerus begitu, ia juga tanda bahaya. Kita akan cenderung membiarkan hal-hal buruk dikatakan atau terjadi pada kita demi sekadar menghindari konflik yang akan ditimbulkan jika kita angkat bicara. Jika bersikap terlalu baik seperti itu, kita akan terus-menerus jadi bahan dolanan mereka.

3. Tidak mau mengatakan ‘tidak’

Jika kita tidak bisa mengatakan ‘tidak’ hanya agar tidak mengecewakan orang, ada kalanya ini menjadi masalah. Kita tidak memprioritaskan waktu atau kesejahteraan diri kita sendiri dengan selalu mengatakan ‘ya’ pada kepentingan orang lain. Perlu ada batasan dan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain.

4. Terus-menerus meminta maaf

Minta maaf itu sangat dianjurkan jika memang ada kesalahan. Tapi, jika kita terlalu sering meminta maaf bahkan untuk hal-hal yang tidak dalam kendali kita atau bukan kesalahan kita, maka itu tanda kita terlalu baik. Perilaku berlebihan minta maaf ini membuat kita tampak tidak aman atau tidak percaya pada diri sendiri. Ini dapat menghambat kita mencapai potensi penuh diri kita dalam hidup atau membuat kita kesulitan menemukan hubungan yang sehat dengan orang-orang sekitar!

5. Tidak pernah meminta bantuan

Tanda lain kita terlalu baik adalah merasa sulit meminta bantuan orang lain. Kita boleh saja merasa tidak ingin menyusahkan siapa pun dengan tidak meminta bantuan mereka. Padahal, hubungan yang sehat antara kita dan orang lain itu bergantung pada bagaimana kita saling memberi dan menerima. Kita melakukan sesuatu untuk orang lain. Jika mereka menghargai kita maka mereka akan membalasnya dengan senang hati dan dengan berbagai bentuk imbalan.

Lima contoh di atas itu bisa bertambah sesuai dengan kondisi kita masing-masing. Pesan intinya, dalam berhubungan dengan orang lain itu sangatlah penting kita menjadi baik. Tapi, menyeimbangkannya juga tak kalah penting. Ketika keseimbangan hilang, itu bisa merugikan kita sendiri.

Mengapa?

Saat menjadi terlalu baik dalam hal tertentu atau pada orang tertentu, maka ada aspek-aspek lain yang jadi tidak seimbang. Saat tidak seimbang, bisa jadi kita menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan kita sendiri. Itu bisa membuat orang lain lolos dari hal-hal yang seharusnya mereka lakukan dan kita menanggung bebannya.

Bersikap terlalu baik dapat membuat orang memanfaatkan kita. Jika kita selalu bersedia mengatakan ‘ya’ dan mengakomodasi orang lain, maka ia atau mereka mungkin melihat kita sebagai ‘orang penurut’ lalu memanfaatkan kebaikan kita untuk kepentingan dia. Hal ini dapat menyebabkan kita nanti menjadi kewalahan dan merasa dieksploitasi.

Maka, sangat penting untuk menemukan keseimbangan antara bersikap baik dan bersikap tegas. Jika perlu, kita bisa bersikap tegas saat membela diri sendiri dan menetapkan batasan, sambil tetap menghormati dan memperhatikan orang lain.

Dengan menemukan keseimbangan ini, Anda tetap bisa menjadi orang baik tanpa harus terlalu mengorbankan kesejahteraan Anda sendiri.

 

Facebook Comments

Comments are closed.