mepnews.id – Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD, guru besar Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi 10 Nopember (ITS), mengembangkan alat kesehatan yang disertai teknologi artificial intelligence (AI) untuk mendukung operasi bedah otak.

Prof Riyanarto Sarno
Alat berupa sistem stereotaktik ini terdiri dari dua bagian besar. Perangkat keras bernama BrainRY dan perangkat lunak bertajuk BrainNAV.
Riyan mengungkapkan, stereotaktik ini didesain bersama Dr dr Achmad Fahmi SpBS(K)SubspNF FINPS dengan tujuan menciptakan alat yang lebih baik daripada yang ada di pasaran.
“Dr Fahmi memberi masukkan seputar desain, kebutuhan alat, dan pengembangan berdasarkan pengalamannya sebagai pengguna,” ungkapnya.
Pembuatan prototipe alat ini juga menggandeng ZENMED+ sebagai salah satu produsen alat kesehatan di Indonesia.
BrainNAV merupakan hasil kerja sama tim yang terdiri dari dosen, mahasiswa S1, S2, dan S3 di ITS.
“Dua dosen Departemen Teknik Informatika yakni Prof Dr Chastine Fatichah dan Kelly Rossa Sungkono SKom MKom menjadi sosok di balik suksesnya penelitian ini,” tambah peraih peringkat pertama SINTA Award 2019 ini.
Cara kerja

Visualisasi 3-D dari rencana proses operasi.
Serupa penggunaan stereotactic neurosurgery umumnya, cara kerja BrainRY adalah memasang bagian localizer pada tengkorak pasien saat melakukan Computed Tomography (CT) Scan. Hasil citra CT Scan digabungkan dengan citra otak pasien dari hasil pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Magnetic Resonance Angiography (MRA).
Kemudian, co-register atau proses penggabungan ketiga citra tersebut dilakukan menggunakan perangkat lunak BrainNAV yang menerapkan teknologi AI.
Penyatuan beberapa citra hasil pemindaian ini memberikan gambar struktur otak dan pembuluh darah yang lebih komprehensif. “Ini bisa memudahkan dokter dalam memvisualisasikan kepala pasien sebelum melakukan operasi,” imbuhnya.
Pada pelaksanaan operasi otak, BrainNAV memungkinkan dokter menentukan lokasi target yang ingin dioperasi dengan penandaan koordinat titik tersebut. Berdasarkan koordinat tersebut, perangkat keras BrainRY menyesuaikan posisi jarum operasi dengan mengarahkannya pada target anatomi otak secara akurat dan presisi dengan tingkat kesalahan maksimum 0,9 mm.
Lebih lanjut, Riyan mengungkapkan beberapa fitur kelebihan utama BrainNAV adalah 20 kali pembesaran citra untuk memberikan tindakan yang lebih presisi, kemampuan untuk menyesuaikan tingkat kecerahan gambar, dan pemodelan 3D untuk memberikan gambaran struktur otak dari berbagai sisi.
Perangkat lunak BrainNAV juga memungkinkan proses ekspor gabungan hasil pemindaian dalam bentuk Digital Imaging and Communications in Medicine (DICOM). Selain itu juga pembacaan citra DICOM beberapa pasien secara bersamaan dalam satu perangkat, dan penentuan beberapa bagian otak seperti Anterior Commissure (AC), Posterior Commissure (PC), dan Ventral Intermediate Nucleus (VIM) dari thalamus secara otomatis.
BrainRY dan BrainNAV telah dipamerkan di Paviliun Indonesia pada ajang Hannover Messe 2023 di Jerman 17 – 21 April 2023. Gelaran ini merupakan salah satu pameran industri internasional terbesar dan bergengsi di Eropa serta diikuti berbagai penggiat industri dari lintas negara di dunia.
Riyan berharap inovasi yang dalam tahap uji in vitro ini dapat memberikan dukungan bagi kebutuhan bedah saraf otak di Indonesia. Dengan harga lebih terjangkau, diharapkan semakin banyaknya rumah sakit memiliki alat medis ini.
“Dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi, tentu harga alat ini lebih terjangkau ketimbang stereotaktik impor,” tandasnya memastikan.
Riyan berharap, hasil penelitian yang dibiayai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini dapat mendorong para peneliti dan akademisi untuk memajukan industri peralatan medis dalam negeri.
“Semoga riset ini dapat membawa kebermanfaatan bagi banyak orang sekaligus menjadi inisiator dari kemajuan industri medis di Indonesia,” kata Riyan. (Ricardo Hokky Wibisono)


